Sikap Posko
Perjuangan Rakyat (Pospera) menuding pemeberitaan
Pers di NTT terhadap calon gubernur NTT Frans Lebu Raya salah, karena banyak
tidak berimbang dalam menyajikan pemberitaan kepada publik.
Pospera menilai bahwa pemberitaan pers NTT terhadap Gubernur Frans Lebu Raya banyak
yang tidak berimbang dan tidak sesuai dengan kenyataan, ujar Anggota Pospera
NTT, Paulina dalam jumpa pers di kelurahan Fatubesi Kecamatan Kota Lama Kamis
(21/2).
Pembemritaan pers selama ini dinilai salah karena pemberitaan kasus dana Bantuan sosial (Bansos) NTT yang terindikasi
korupsi dan melibatkan orang nomor satu itu tidak benar
sebab pantauan Pospera belum ada fakta yang terjadi demikian. Pospera sudah mengecek
terkait dugaan yang di beritakan di media di NTT terkait dengan dugaan korupsi
dana Bansos.”Kita sudah mengecek sampai Jakarta, seteleah ditelusuri ternyata
dugaan tersebut tidak benar,” apalagi belum ada temuan indikasi korupsi Dana
bansos, kata Paulina.
Kami
berharap media di NTT dalam menyajikan berita terkat dengan dugaan tersebut
harus berimbang, dalam pemberitaan terkait dengan penyala gunaan dana Bansos.
Kalau ada pemberitaan terkait dengan penyalagunaan dana Bansos agar datang di
sekretarian Pospera untuk membedah persoalan dana Bansos,” Tolong datang di Pos
Pera untuk melakukan klarifikasi terkait dengan informas dana
Bansos.
Paulina
menilai, sejauh ini sesuai dengan hasil pantuan pemberitaan media di NTT selalu
menyudutkan salah paket dengan terindikasi dana Bansos, “ saya tahu benar dalam
memberitakan persoalan isu-isu yang terkait dengan persoalan pribadi orang dan
menggunakan satu nara sumber,” karena banyak keluarga saya juga sebagai
jurnalis, jadi saya tahu baik dalam dalam pemberitan. Aapalagi yang berkomentar
tersebut ternyata lawan politik Frans
Lebu Raya, jelasnya.
Keberadaan
Pospera telah mendukung paket Frans Lebu Raya dan Beni Litelnoni (Frenly) pada Pilkada
Gubernur dan Wakil Gubernur NTT akan
berlangsung pada tanggal 18 Maret 2013
mendatang, karena Pospera menilai bahwa paket Frenly adalah pemimpin yang memiliki kepampuan dan integritas kepemimpinan
dan pemimpin yang masih bisa memperhatikan masyarakat. “kami menentukan sikap
untuk mendukung paket Frenly karena pemimpin yang tidak mengobar janji tetapi
pemimpin yang menunjukan bukti kepada rakyat,” jelasnya.
Kritikan terhadap
pemberitaan pers yang tidak seimbang oleh Popera menuai protes dari Aliansi
Jurnalis Independen (AJI) Kota Kupang,
Adi
Rianghepat, menyesalkan pernyataan anggota Pospera terhadap pemeberitaan media
di NTT dinilai tidak seimbang. Pernyataan anggota Pospera yakni Paulina
menunjukan ketidak pahaman soal terkait dengan pemeberitaan. Apalagi dengan
ketidak tahuan soal pekerjaan jurnalis, Kami menyesal pernyataan tersebut,”
ujar Anggota AJI bidang Hukum dan Advokasi tersebut.
Menurut Adi,
ketidak tahuan dia mendekat dengan kebodohan dalam proses berpikir, sebab
jurnalis menyajikan berita bukan seperti apa yang diberikan dalam pernyataan
tersebut. Apalagi persoalan indikasi kasu korupsi dana Bansos di NTT, “
Persoalan dana bansos NTT selama ini oleh Pemerintah, apakah mereka tahu,”
jelasnya.
Kalau
Pospera tahu persoalan Dana Bansos tolong jelaskan kepada Publik, jangan asal
bicara. Apalagi dengan moment politik seperti ini
terangnya. Jangan asal bicara dalam memahami sebuah persoalan.