BRIGJEN Pol Drs
Endang Sunjaya, SH, MH, resmi menjadi Kapolda NTT menggantikan Brigen Pol I
Ketut Untung Yoga Ana. Hal itu ditandai dengan acara serah terima jabatan
Kapolda NTT yang digelar di Mapolda NTT, Senin (15/9). Endang sendiri tak
menyangka sebagai anak “Kolong” jika
dirinya bisa dilantik sebagai Kapolda NTT. Ia baru lima bulan menjabat sebagai
Wakapolda Nanggroe Aceh Darussalam.
“Saya tidak menyangka karena baru lima bulan saya
menjadi Wakapolda, tetapi sudah dipercayakan menjadi Kapolda NTT. Ini semua
karena kehendak Yang Maha Kuasa,” katanya usai mengikuti acara bersama para
pejabat Polda NTT, Minggu (14/9). Nama Endang tidak begitu banyak dikenal
publik selama menjalankan tugas sebagai anggota Polri. Endang lahir di Jakarta
pada 2 Juli 1958. Kini usianya mencapai 65 tahun.
Dia adalah anak ‘kolong’ dari Batalyon 202/Tajimalela
Jakarta yang sekarang sudah dijadikan Roksima. Endang merupakan anak
ketiga dari delapan bersaudara. Ayahnya (alm) adalah seorang anggota TNI
Angkatan Darat. “Saya ini anak kolong, anak tentara. Almarhum bapak saya
adalah seorang prajurit TNI,” kata Endang.
Di keluarganya, Endang dibimbing secara ceria dalam
nuansa kesederhanaan. Namun, dengan harapan, suatu saat kelak ia akan menjadi
anak yang berguna bagi masyarakat, nusa dan bangsa. Tidak hanya kesederhanaan,
di dalam keluarganya Endang juga dididik untuk taat beribadah. Sebagai anak
anggota TNI, ia juga dididik secara ketat dalam budaya dan tradisi hidup yang
penuh dengan kedisiplinan.
“Karena bapak saya tentara, kami semua amat disiplin,
jadi ke sekolah tidak pernah telat dan bolos, tahu kan zaman-zaman itu,” kata pria
yang memiliki hobi olahraga bersepeda dan fitness ini. Masa kecil hingga remaja
dihabiskan Endang di barak tentara 202 Tajimalela Jakarta. Saat ini, kompleks
tersebut telah dijadikan Roksima. “Kompleks Tajimalelal tempat kelahiran saya
tepatnya di Asrama Batalyon 202/Tajimalela, Kota Bekasi,” ucapnya.
Tuntaskan Kasus Lama Meski tak menyangka, namun kini
Endang telah resmi memangku tanggung jawab sebagai Kapolda NTT. Sebagai Kapolda
yang baru, Endang berkomitmen memberikan kepastian hukum kepada seluruh masyarakat
NTT. Berbagai kasus yang sementara ditangani oleh aparat Polda NTT, menurutnya,
akan diungkap satu per satu, terutama kasus yang menjadi sorotan masyarakat
NTT.
Endang dan jajarannya akan mencoba dan berupaya
bekerja keras agar satu per satu kasus tersebut diungkap demi memberikan
kepastian hukum dan rasa keadilan kepada masyarakat. Berbagai catatan berat
dari berbagai kasus tersebut, menurutnya, tidak akan dipikul sendiri. Sistem
kerja akan dioptimalkan untuk mengungkap kasus-kasus itu demi kerinduan
keluarga korban dan masyarakat NTT secara umum.
Dia mengakui, dirinya masih memiliki kekurangan karena
baru mengetahui kondisi riil persoalan di NTT. Namun, segala amanah akan tetap
dijalankannya dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati. Sejumlah kasus
yang menjadi pekerjaan rumah (PR) diprogramkan untuk diselesaikan. Kasus-kasus
tersebut di antaranya adalah kasus perdagangan manusia (human trafficking),
kasus pembunuhan Obaja Nakmofa di Kota Kupang, kasus pembunuhan Paulus Usnaat
di dalam sel Mapolsek Nunpene, Kabupaten TTU. Selain itu, kasus kematian Nurdin
di Maumere, Kabupaten Sikka, serta kasus kebakaran kantor Gubernur NTT.
“Semua kasus akan didalami, setiap pelanggaran hukum
kita akan tindak secara tegas agar memberikan kepastian hukum kepada masyarakat,”
katanya pasti. Usai acara serah terima jabatan di Mapolda NTT, Endang masih
mengungkapkan rasa harunya atas berbagai kasus yang hingga saat ini masih belum
dituntaskan. Ia juga berjanji akan melanjutkan kebijakan mantan Kapolda NTT
yang dinilainya positif.
“Apa yang sudah positif kita akan lanjutkan. Kemudian
ada hal yang lain, seperti tunggakan kasus akan kita usahakan untuk
diungkapkan. Sekecil apa pun masalah yang meresahkan masyarakat, akan kita coba
mengungkapkan kaitannya dengan berbagai kasus. Pelan-pelan tetapi tetap kita
melalui berbagai cara dan langkah yang baru. Dan perlu ada dukungan dari
berbagai pihak, lebih khususnya media,” ungkapnya.
Tidak Main-main Menurut Endang, pihaknya tidak
main-main dalam menegakkan hukum di NTT. Setiap kasus pelanggaran hukum akan
ditindak secara tegas. “Saya tidak main-main, tetapi saya juga harus butuh
media untuk memberikan kenyamanan dan keamanan kepada masyarakat,” katanya.
Baginya, menjadi anggota polisi yang dipercaya bukan
hal yang mudah. Semua itu dicapai dengan kerja keras dan perjuangan yang
panjang. Berbagai pengalaman sampai dengan memperoleh penghargaan harus
melalui kerja keras, baik untuk kemajuan institusi maupun pengalaman berharga
sebagai anggota Polri.
Salah satu kebahagiaan yang tidak pernah dilupakannya
adalah kala Endang meraih penghargaan berskala internasional. Penghargaan dari
OKI (Organisasi Konferensi Islam) tersebut diraih karena prestasinya mengungkap
salah satu kasus pembunuhan di Amerika tahun 1993-1994. Tidak hanya itu, ketika
menjabat sebagai Kasat Serse Polres Jakarta Timur, Endang berhasil mengungkap
kasus pembunuhan yang dilakukan oleh Pelipus terhadap satu keluarga.
Di dalam melaksanakan tugas sebagai anggota polisi,
Endang selalu mendekatkan diri dengan masyarakat, bahkan terjun langsung ke
tempat kejadian perkara (TKP) bila diperlukan. Hal itu dilakukannya untuk
memberikan kesadaran kepada masyarakat sekaligus menuntaskan kasus yang
ditangani. Dengan pola pendekatan itu, jarang muncul kasus kejahatan
besar yang merugikan pihak lain atau korban. Pola itu, menurut Endang, banyak
diterapkan ketika ia menjabat sebagai Kapolres Lampung.
Selama menjadi Kapolres Lampung, ia banyak turun
langsung ke TKP bersama anggotanya. Melalui pola itu pula, Endang berhasil
menekan angka kejahatan di wilayah kerjanya. “Dengan kita mendekatkan
diri dalam berbagai persoalan, masyarakat lebih sadar dan lebih menerima bahwa
segala sesuatu bisa diselesaikan. Dengan demikian, jarang muncul kejahatan
besar yang merugikan pihak lain,” tukasnya. (Ajhar Jowe)