Selasa, 16 September 2014

Anak Kolong Jadi Kapolda



BRIGJEN Pol Drs Endang Sunjaya, SH, MH, resmi menjadi Kapolda NTT menggantikan Brigen Pol I Ketut Untung Yoga Ana. Hal itu ditandai dengan acara serah terima jabatan Kapolda NTT yang digelar di Mapolda NTT, Senin (15/9).  Endang sendiri tak menyangka sebagai anak “Kolong”  jika dirinya bisa dilantik sebagai Kapolda NTT. Ia baru lima bulan menjabat sebagai Wakapolda Nanggroe Aceh Darussalam.
“Saya tidak menyangka karena baru lima bulan saya menjadi Wakapolda, tetapi sudah dipercayakan menjadi Kapolda NTT. Ini semua karena kehendak Yang Maha Kuasa,” katanya usai mengikuti acara bersama para pejabat Polda NTT, Minggu (14/9). Nama Endang tidak begitu banyak dikenal publik selama menjalankan tugas sebagai anggota Polri. Endang lahir di Jakarta pada 2 Juli 1958. Kini usianya mencapai 65 tahun.
Dia adalah anak ‘kolong’ dari Batalyon 202/Tajimalela Jakarta yang sekarang sudah dijadikan Roksima.  Endang merupakan anak ketiga dari delapan bersaudara. Ayahnya (alm) adalah seorang anggota TNI Angkatan Darat.  “Saya ini anak kolong, anak tentara. Almarhum bapak saya adalah seorang prajurit TNI,” kata Endang.
Di keluarganya, Endang dibimbing secara ceria dalam nuansa kesederhanaan. Namun, dengan harapan, suatu saat kelak ia akan menjadi anak yang berguna bagi masyarakat, nusa dan bangsa. Tidak hanya kesederhanaan, di dalam keluarganya Endang juga dididik untuk taat beribadah. Sebagai anak anggota TNI, ia juga dididik secara ketat dalam budaya dan tradisi hidup yang penuh dengan kedisiplinan.
“Karena bapak saya tentara, kami semua amat disiplin, jadi ke sekolah tidak pernah telat dan bolos, tahu kan zaman-zaman itu,” kata pria yang memiliki hobi olahraga bersepeda dan fitness ini. Masa kecil hingga remaja dihabiskan Endang di barak tentara 202 Tajimalela Jakarta. Saat ini, kompleks tersebut telah dijadikan Roksima. “Kompleks Tajimalelal tempat kelahiran saya tepatnya di Asrama Batalyon 202/Tajimalela, Kota Bekasi,” ucapnya.
Tuntaskan Kasus Lama Meski tak menyangka, namun kini Endang telah resmi memangku tanggung jawab sebagai Kapolda NTT. Sebagai Kapolda yang baru, Endang berkomitmen memberikan kepastian hukum kepada seluruh masyarakat NTT. Berbagai kasus yang sementara ditangani oleh aparat Polda NTT, menurutnya, akan diungkap satu per satu, terutama kasus yang menjadi sorotan masyarakat NTT.
Endang dan jajarannya akan mencoba dan berupaya bekerja keras agar satu per satu kasus tersebut diungkap demi memberikan kepastian hukum dan rasa keadilan kepada masyarakat. Berbagai catatan berat dari berbagai kasus tersebut, menurutnya, tidak akan dipikul sendiri. Sistem kerja akan dioptimalkan untuk mengungkap kasus-kasus itu demi kerinduan keluarga korban dan masyarakat NTT secara umum.
Dia mengakui, dirinya masih memiliki kekurangan karena baru mengetahui kondisi riil persoalan di NTT. Namun, segala amanah akan tetap dijalankannya dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati.  Sejumlah kasus yang menjadi pekerjaan rumah (PR) diprogramkan untuk diselesaikan. Kasus-kasus tersebut di antaranya adalah kasus perdagangan manusia (human trafficking), kasus pembunuhan Obaja Nakmofa di Kota Kupang, kasus pembunuhan Paulus Usnaat di dalam sel Mapolsek Nunpene, Kabupaten TTU. Selain itu, kasus kematian Nurdin di Maumere, Kabupaten Sikka, serta kasus kebakaran kantor Gubernur NTT.
“Semua kasus akan didalami, setiap pelanggaran hukum kita akan tindak secara tegas agar memberikan kepastian hukum kepada masyarakat,” katanya pasti. Usai acara serah terima jabatan di Mapolda NTT, Endang masih mengungkapkan rasa harunya atas berbagai kasus yang hingga saat ini masih belum dituntaskan. Ia juga berjanji akan melanjutkan kebijakan mantan Kapolda NTT yang dinilainya positif.
“Apa yang sudah positif kita akan lanjutkan. Kemudian ada hal yang lain, seperti tunggakan kasus akan kita usahakan untuk diungkapkan. Sekecil apa pun masalah yang meresahkan masyarakat, akan kita coba mengungkapkan kaitannya dengan berbagai kasus. Pelan-pelan tetapi tetap kita melalui berbagai cara dan langkah yang baru. Dan perlu ada dukungan dari berbagai pihak, lebih khususnya media,” ungkapnya.
Tidak Main-main Menurut Endang, pihaknya tidak main-main dalam menegakkan hukum di NTT. Setiap kasus pelanggaran hukum akan ditindak secara tegas. “Saya tidak main-main, tetapi saya juga harus butuh media untuk memberikan kenyamanan dan keamanan kepada masyarakat,” katanya.
Baginya, menjadi anggota polisi yang dipercaya bukan hal yang mudah. Semua itu dicapai dengan kerja keras dan perjuangan yang panjang.  Berbagai pengalaman sampai dengan memperoleh penghargaan harus melalui kerja keras, baik untuk kemajuan institusi maupun pengalaman berharga sebagai anggota Polri.
Salah satu kebahagiaan yang tidak pernah dilupakannya adalah kala Endang meraih penghargaan berskala internasional. Penghargaan dari OKI (Organisasi Konferensi Islam) tersebut diraih karena prestasinya mengungkap salah satu kasus pembunuhan di Amerika tahun 1993-1994. Tidak hanya itu, ketika menjabat sebagai Kasat Serse Polres Jakarta Timur, Endang berhasil mengungkap kasus pembunuhan yang dilakukan oleh Pelipus terhadap satu keluarga.
Di dalam melaksanakan tugas sebagai anggota polisi, Endang selalu mendekatkan diri dengan masyarakat, bahkan terjun langsung ke tempat kejadian perkara (TKP) bila diperlukan. Hal itu dilakukannya untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat sekaligus menuntaskan kasus yang ditangani.  Dengan pola pendekatan itu, jarang muncul kasus kejahatan besar yang merugikan pihak lain atau korban. Pola itu, menurut Endang, banyak diterapkan ketika ia menjabat sebagai Kapolres Lampung.
Selama menjadi Kapolres Lampung, ia banyak turun langsung ke TKP bersama anggotanya. Melalui pola itu pula, Endang berhasil menekan angka kejahatan di wilayah kerjanya.  “Dengan kita mendekatkan diri dalam berbagai persoalan, masyarakat lebih sadar dan lebih menerima bahwa segala sesuatu bisa diselesaikan. Dengan demikian, jarang muncul kejahatan besar yang merugikan pihak lain,” tukasnya. (Ajhar Jowe)

Tidak ada komentar :

Posting Komentar