URBANUS-REKO
Namun, bagi Urbanus Reko, hidup perlu diperjuangkan secara
serius. Bagi pria kelahiran Ende 23 November 1971 ini, cita-cita boleh setinggi
langit.
Namun bila tidak dibarengi dengan usaha dan kerja keras, maka
mimpi indah tidak akan mungkin menjadi kenyataan. Sejak mahasiswa, suami dari
Theresia Ety Wau ini, punya cita-cita menjadi seorang pegawai negeri sipil
(PNS).
Dari latar belakang keluarga yang sederhana, Banus (sapaan
Urbanus Reko) ingin langsung bekerja setelah kuliah. Makanya, ia memilih kuliah
di STIM Oematonis Kupang. Dalam perjalanan kualiahnya, ia selalu berpikir
bagaimana membiayai hidup dan kuliah tanpa merepotkan orangtua.
Dengan tekad membaja, Banus nekat mencari pekerjaan di luar
jam kuliah. Dan satu-satunya sumber pencarian uang yang mudah adalah menjadi
tukang ojek.
“Kuliah sambil ojek jadi tantangan saya dalam perjalanan
hidup di Kota Kupang. Orang tidak mampu seperti saya, yang penting harus mampu
membiayai diri sendiri. Apalagi dengan latar belakang orang tidak mampu, harus
kuliah di Kupang,” ujar Banus dalam obrolannya dengan media, beberapa waktu
lalu.
Setelah menyelesaikan kuliah tahun 2001, profesi sebagai
tukang ojek tetap digeluti demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Suatu saat,
Banus melamar bekerja di Koperasi Kredit (Kopdit) Solidaitas yang berkantor di
belakang Gereja St Asumpta Kayu Putih. Ia dipercayakan sebagai tenaga lapangan
dengan honor Rp 150.000/bulan.
“Saya terima karena dalam pikiran saya bisa ojek sambil
menagih uang koperasi di nasabah. Istilahnya, ojek sambil menagih. Memang
berat, apalagi harus mengejar setoran untuk pemilik motor. Tetapi bagaimana
kita memanfaatkan waktu ini demi menyelamatan dua profesi berjalan sama-sama,”
ungkapnya.
Kerja kerasnya membuatnya mampu menjalankan dua pekerjaan
secara baik. Dalam benak Banus, ia harus maju dan memiliki hidup lebih baik
dari sebelumnya.
Banus lagi-lagi menciptakan lapangan kerja baru bagi dirinya.
Ia memanfaatkan waktu luang untuk memelihara babi. Dari tiga pekerjaan
tersebut, Banus banyak menimba ilmu khususnya soal tekad dan keinginan mengubah
nasib.
Setelah tiga tahun (2002-2005) menjadi petugas penagihan di
Kopdit Solidaritas, sebagai penagih lapangan, akhirnya pada tanggal 16 Oktober
2005, ia dipercaya oleh pengurus Koperasi sebagai manager.
“Saya diangkat menjadi Manager dengan anggota baru 250 orang
dan aset yang dikelola baru mencapai Rp 566 juta, plus satu orang staf di
kantor dan beberapa petugas lapangan (penagihan),” ujarnya. Jadi manajer, bukan
lantas membuat Banus duduk ongkang-ongkang kaki, namun beban tugasnya pun
semakin berat.
Ia juga harus turun sebagai petugas lapangan demi membantu
perkembangan Kopdit yang berdiri pada tahun 1991 itu. Pada tahun 2006
pertumbuhan Kopdit Solidaritas kian maju. Dari anggota yang hanya 250-an orang,
bertambah menjadi 2.300 anggota.
“Itu anggota biasa. Kalau anggota luar biasa sudah mencapai
3.500 orang. Saya bersyukur, Kopdit Solidaritas sekarang sudah lebih maju
karena produk baik simpan maupun pinjam sangat membantu anggota,” ujarnya.
Di akahir obrolannya, Banus mengaku sangat yakin dan percaya
akan pertumbuhan ekonomi masyarakat NTT jika bergabung dengan koperasi. (Ajhar)
Nama : Urbanus Reko
TTL : Ende, 25
November 1971
Jabatan : Manager Koperasi Kredit Solidaritas
Hobi
: Olahraga
Istri
: Theresia Ety Wau
Pendidikan : STIM
Oematonis Kupang
Motto : Cita-cita tanpa
usaha dan kerja keras, maka mimpi indah tidak mungkin menjadi kenyataan
.jpg)
Tidak ada komentar :
Posting Komentar