Sabtu, 13 September 2014

Tukang Ojek Jadi Maneger



URBANUS-REKO

Namun, bagi Urbanus Reko, hidup perlu diperjuangkan secara serius. Bagi pria kelahiran Ende 23 November 1971 ini, cita-cita boleh setinggi langit.
Namun bila tidak dibarengi dengan usaha dan kerja keras, maka mimpi indah tidak akan mungkin menjadi kenyataan. Sejak mahasiswa, suami dari Theresia Ety Wau ini, punya cita-cita menjadi seorang pegawai negeri sipil (PNS).
Dari latar belakang keluarga yang sederhana, Banus (sapaan Urbanus Reko) ingin langsung bekerja setelah kuliah. Makanya, ia memilih kuliah di STIM Oematonis Kupang. Dalam perjalanan kualiahnya, ia selalu berpikir bagaimana membiayai hidup dan kuliah tanpa merepotkan orangtua.
Dengan tekad membaja, Banus nekat mencari pekerjaan di luar jam kuliah. Dan satu-satunya sumber pencarian uang yang mudah adalah menjadi tukang ojek.
“Kuliah sambil ojek jadi tantangan saya dalam perjalanan hidup di Kota Kupang. Orang tidak mampu seperti saya, yang penting harus mampu membiayai diri sendiri. Apalagi dengan latar belakang orang tidak mampu, harus kuliah di Kupang,” ujar Banus dalam obrolannya dengan media, beberapa waktu lalu.
Setelah menyelesaikan kuliah tahun 2001, profesi sebagai tukang ojek tetap digeluti demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Suatu saat, Banus melamar bekerja di Koperasi Kredit (Kopdit) Solidaitas yang berkantor di belakang Gereja St Asumpta Kayu Putih. Ia dipercayakan sebagai tenaga lapangan dengan honor Rp 150.000/bulan.
“Saya terima karena dalam pikiran saya bisa ojek sambil menagih uang koperasi di nasabah. Istilahnya, ojek sambil menagih. Memang berat, apalagi harus mengejar setoran untuk pemilik motor. Tetapi bagaimana kita memanfaatkan waktu ini demi menyelamatan dua profesi berjalan sama-sama,” ungkapnya.
Kerja kerasnya membuatnya mampu menjalankan dua pekerjaan secara baik. Dalam benak Banus, ia harus maju dan memiliki hidup lebih baik dari sebelumnya.
Banus lagi-lagi menciptakan lapangan kerja baru bagi dirinya. Ia memanfaatkan waktu luang untuk memelihara babi. Dari tiga pekerjaan tersebut, Banus banyak menimba ilmu khususnya soal tekad dan keinginan mengubah nasib.
Setelah tiga tahun (2002-2005) menjadi petugas penagihan di Kopdit Solidaritas, sebagai penagih lapangan, akhirnya pada tanggal 16 Oktober 2005, ia dipercaya oleh pengurus Koperasi sebagai manager.
“Saya diangkat menjadi Manager dengan anggota baru 250 orang dan aset yang dikelola baru mencapai Rp 566 juta, plus satu orang staf di kantor dan beberapa petugas lapangan (penagihan),” ujarnya. Jadi manajer, bukan lantas membuat Banus duduk ongkang-ongkang kaki, namun beban tugasnya pun semakin berat.
Ia juga harus turun sebagai petugas lapangan demi membantu perkembangan Kopdit yang berdiri pada tahun 1991 itu. Pada tahun 2006 pertumbuhan Kopdit Solidaritas kian maju. Dari anggota yang hanya 250-an orang, bertambah menjadi 2.300 anggota.
“Itu anggota biasa. Kalau anggota luar biasa sudah mencapai 3.500 orang. Saya bersyukur, Kopdit Solidaritas sekarang sudah lebih maju karena produk baik simpan maupun pinjam sangat membantu anggota,” ujarnya.
Di akahir obrolannya, Banus mengaku sangat yakin dan percaya akan pertumbuhan ekonomi masyarakat NTT jika bergabung dengan koperasi. (Ajhar)
Nama          : Urbanus Reko
TTL             : Ende, 25 November 1971
Jabatan        : Manager Koperasi Kredit Solidaritas
 Hobi            : Olahraga
 Istri              : Theresia Ety Wau
 Pendidikan  : STIM Oematonis Kupang
Motto          : Cita-cita tanpa usaha dan kerja keras, maka mimpi indah tidak mungkin menjadi kenyataan

Tidak ada komentar :

Posting Komentar