Rabu, 17 September 2014

Jenasah Akan Diterbangkan ke Sulawesi

Jenasah Edgar Palembangan (22) Mahasiswa semester V  Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang rencana akan diterbangkan ke kampung halamannya di Sulawesi Utara pada Kamis (17/9).
Jurusan arstitek fakultas Teknik
Informasi melalui Kepala Instalasi Pemulasaran Jenasah Rumah Sakit  Umum WZ Johannes Kupang Okto Boimau  mengatakan, petugas kamar mayat tengah melakukan pemulasan jenasah. “Setelah itu jenasah akan dikirim ke kempung halamannya, di Provinsi Sulawesi Utara” kata kepada wartawan.
Sebelumnya, jenasah warga penghuni kos asal Manado itu, dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara Kupang untuk kepentingan otopsi, namun ditolak keluarga. Keluarga menolak Otopsi karena menerima kematian korban.
Salah satu teman korban Benedikto, mengatakan beberapa hari terakhir korban tidak perkomunikasi. Dia, Edgar sering menyendiri dan jarang berbicara. Selama beberapa hari ini sering di kamar kosnya, dan “Belakangan ini di kampus ia sering duduk di pojok ruangan dan jarang berbicara sesama teman,” katanya.
Kasat Reskrim Kabupaten Kupang, AKP Ramadanto, mengatakan dugaan sementara Edgar tewas karena gantung diri di kamar kosnya di RT 7 RW 2 Kelurahan Penfui Timur, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang pada Selasa (16/9) sekitar  pukul 11:00 wita. Polisi masih menyelidiki penyebab kematian karena korban diduga bunuh diri didalam kamar. Ada berbagai pesan dalam coretan buku pribadinya yang ditemukan polisi saat dilakukan olah TKP. Diduga korban ganttung diri karena persoalan keluarga, kita masih menyelidiki lebih lanjut melalui berbagai keterangan dari keluarga.Korban ditemukan tewas gantung diri didalam kamar, ditemukan tali nilon, dan beberapa bekas lilitan tali dileher korban, kata Ramadanto. (aje).

Selasa, 16 September 2014

Anak Kolong Jadi Kapolda



BRIGJEN Pol Drs Endang Sunjaya, SH, MH, resmi menjadi Kapolda NTT menggantikan Brigen Pol I Ketut Untung Yoga Ana. Hal itu ditandai dengan acara serah terima jabatan Kapolda NTT yang digelar di Mapolda NTT, Senin (15/9).  Endang sendiri tak menyangka sebagai anak “Kolong”  jika dirinya bisa dilantik sebagai Kapolda NTT. Ia baru lima bulan menjabat sebagai Wakapolda Nanggroe Aceh Darussalam.
“Saya tidak menyangka karena baru lima bulan saya menjadi Wakapolda, tetapi sudah dipercayakan menjadi Kapolda NTT. Ini semua karena kehendak Yang Maha Kuasa,” katanya usai mengikuti acara bersama para pejabat Polda NTT, Minggu (14/9). Nama Endang tidak begitu banyak dikenal publik selama menjalankan tugas sebagai anggota Polri. Endang lahir di Jakarta pada 2 Juli 1958. Kini usianya mencapai 65 tahun.
Dia adalah anak ‘kolong’ dari Batalyon 202/Tajimalela Jakarta yang sekarang sudah dijadikan Roksima.  Endang merupakan anak ketiga dari delapan bersaudara. Ayahnya (alm) adalah seorang anggota TNI Angkatan Darat.  “Saya ini anak kolong, anak tentara. Almarhum bapak saya adalah seorang prajurit TNI,” kata Endang.
Di keluarganya, Endang dibimbing secara ceria dalam nuansa kesederhanaan. Namun, dengan harapan, suatu saat kelak ia akan menjadi anak yang berguna bagi masyarakat, nusa dan bangsa. Tidak hanya kesederhanaan, di dalam keluarganya Endang juga dididik untuk taat beribadah. Sebagai anak anggota TNI, ia juga dididik secara ketat dalam budaya dan tradisi hidup yang penuh dengan kedisiplinan.
“Karena bapak saya tentara, kami semua amat disiplin, jadi ke sekolah tidak pernah telat dan bolos, tahu kan zaman-zaman itu,” kata pria yang memiliki hobi olahraga bersepeda dan fitness ini. Masa kecil hingga remaja dihabiskan Endang di barak tentara 202 Tajimalela Jakarta. Saat ini, kompleks tersebut telah dijadikan Roksima. “Kompleks Tajimalelal tempat kelahiran saya tepatnya di Asrama Batalyon 202/Tajimalela, Kota Bekasi,” ucapnya.
Tuntaskan Kasus Lama Meski tak menyangka, namun kini Endang telah resmi memangku tanggung jawab sebagai Kapolda NTT. Sebagai Kapolda yang baru, Endang berkomitmen memberikan kepastian hukum kepada seluruh masyarakat NTT. Berbagai kasus yang sementara ditangani oleh aparat Polda NTT, menurutnya, akan diungkap satu per satu, terutama kasus yang menjadi sorotan masyarakat NTT.
Endang dan jajarannya akan mencoba dan berupaya bekerja keras agar satu per satu kasus tersebut diungkap demi memberikan kepastian hukum dan rasa keadilan kepada masyarakat. Berbagai catatan berat dari berbagai kasus tersebut, menurutnya, tidak akan dipikul sendiri. Sistem kerja akan dioptimalkan untuk mengungkap kasus-kasus itu demi kerinduan keluarga korban dan masyarakat NTT secara umum.
Dia mengakui, dirinya masih memiliki kekurangan karena baru mengetahui kondisi riil persoalan di NTT. Namun, segala amanah akan tetap dijalankannya dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati.  Sejumlah kasus yang menjadi pekerjaan rumah (PR) diprogramkan untuk diselesaikan. Kasus-kasus tersebut di antaranya adalah kasus perdagangan manusia (human trafficking), kasus pembunuhan Obaja Nakmofa di Kota Kupang, kasus pembunuhan Paulus Usnaat di dalam sel Mapolsek Nunpene, Kabupaten TTU. Selain itu, kasus kematian Nurdin di Maumere, Kabupaten Sikka, serta kasus kebakaran kantor Gubernur NTT.
“Semua kasus akan didalami, setiap pelanggaran hukum kita akan tindak secara tegas agar memberikan kepastian hukum kepada masyarakat,” katanya pasti. Usai acara serah terima jabatan di Mapolda NTT, Endang masih mengungkapkan rasa harunya atas berbagai kasus yang hingga saat ini masih belum dituntaskan. Ia juga berjanji akan melanjutkan kebijakan mantan Kapolda NTT yang dinilainya positif.
“Apa yang sudah positif kita akan lanjutkan. Kemudian ada hal yang lain, seperti tunggakan kasus akan kita usahakan untuk diungkapkan. Sekecil apa pun masalah yang meresahkan masyarakat, akan kita coba mengungkapkan kaitannya dengan berbagai kasus. Pelan-pelan tetapi tetap kita melalui berbagai cara dan langkah yang baru. Dan perlu ada dukungan dari berbagai pihak, lebih khususnya media,” ungkapnya.
Tidak Main-main Menurut Endang, pihaknya tidak main-main dalam menegakkan hukum di NTT. Setiap kasus pelanggaran hukum akan ditindak secara tegas. “Saya tidak main-main, tetapi saya juga harus butuh media untuk memberikan kenyamanan dan keamanan kepada masyarakat,” katanya.
Baginya, menjadi anggota polisi yang dipercaya bukan hal yang mudah. Semua itu dicapai dengan kerja keras dan perjuangan yang panjang.  Berbagai pengalaman sampai dengan memperoleh penghargaan harus melalui kerja keras, baik untuk kemajuan institusi maupun pengalaman berharga sebagai anggota Polri.
Salah satu kebahagiaan yang tidak pernah dilupakannya adalah kala Endang meraih penghargaan berskala internasional. Penghargaan dari OKI (Organisasi Konferensi Islam) tersebut diraih karena prestasinya mengungkap salah satu kasus pembunuhan di Amerika tahun 1993-1994. Tidak hanya itu, ketika menjabat sebagai Kasat Serse Polres Jakarta Timur, Endang berhasil mengungkap kasus pembunuhan yang dilakukan oleh Pelipus terhadap satu keluarga.
Di dalam melaksanakan tugas sebagai anggota polisi, Endang selalu mendekatkan diri dengan masyarakat, bahkan terjun langsung ke tempat kejadian perkara (TKP) bila diperlukan. Hal itu dilakukannya untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat sekaligus menuntaskan kasus yang ditangani.  Dengan pola pendekatan itu, jarang muncul kasus kejahatan besar yang merugikan pihak lain atau korban. Pola itu, menurut Endang, banyak diterapkan ketika ia menjabat sebagai Kapolres Lampung.
Selama menjadi Kapolres Lampung, ia banyak turun langsung ke TKP bersama anggotanya. Melalui pola itu pula, Endang berhasil menekan angka kejahatan di wilayah kerjanya.  “Dengan kita mendekatkan diri dalam berbagai persoalan, masyarakat lebih sadar dan lebih menerima bahwa segala sesuatu bisa diselesaikan. Dengan demikian, jarang muncul kejahatan besar yang merugikan pihak lain,” tukasnya. (Ajhar Jowe)

Sabtu, 13 September 2014

Istri Polisi Pukul Guru SD Bonipoi



GURU olahraga SD Bonipoi I Welmince Solo (53), yang tinggal di RT 43/ RW 07, Kelurahan Liliba, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang, dianiaya oleh Henderisa L Pello Saonak alias Mama Andini, yang diketahui merupakan istri seorang polisi. Akibat penganiayaan itu, tangan dan jari kanan Welmince terkilir.
“Saya ditendang dari belakang oleh seorang ibu yang dipanggil Mama Andini. Akibat tendangan, saya jatuh, dan tangan dan jari kanan terkilri,” ujar Welmince, saat melaporkan tindakan penganiayaan tersebut kepada anggota Bayanmas Bripka Adi H Harun, Kamis (11/9). Welmince mengatakan, kejadian itu terjadi di depan ruang kelas 6 SD Bonipoi I, Kelurahan Bonipoi, Kecamatan Kota Lama, Kota Kupang, sekitar pukul 11.00 Wita.
Menurut Welmince, kejadian yang menimpa dirinya itu akibat salah paham antara dia dengan Mama Andini. “Waktu itu saya sedang berbicara dengan salah salah satu wali murid mamanya Lutfi. Saya tanya ke mamanya Lutfi, kenapa belum pulang?. Saat itu mamanya Lutfi bilang dia masih menunggu teman,” ujarnya.
Welmince mengungkapkan, usai pernyataan dari mamanya Lutfi, tiba-tiba pelaku datang dan mengatakan kenapa menentang. “Kenapa lu menentang saya, kata pelaku kepada saya,” terang Welmince. “Saat itu saya menjawab saya tidak menantang ibu. Tidak ada saya menantang. Kalau ada masalah kita ke kantor. Tidak lama kemudian, dia menendang saya dari belakang hingga saya jatuh,” ujarnya.
“Setelah itu, saya langsung ke ruang guru di SD Bonipoi 1. Saya pikir, dengan begitu, kita bisa selesaikan di kantor. Ternyata dia punya niat lain yaitu menendang saya. Saat kasus ini diselesaikan di kantor bersama guru dan pihak komite sekolah, pelaku tidak mau dan mengancam saya silakan Lapor, saya juga istri polisi. Lalu dia mengancam saya mau melaporkan kasus ini ke polisi,” ujarnya.
Wilmence di Mapolres Kupang Kota mengatakan, dia terpaksa melaporkan kasus ini karena pelaku juga mengancam melaporkan kasus ini ke polisi. “Saya sebagai korban kok dilaporkan sebagai pelaku. Oleh karena itu, saya laporkan untuk mengetahui apakah hukum di Indonesia ini hanya di berikan kepada keluarga penegak hukum saja.
Apakah kita masyarakat biasa tidak bisa berurusan dengan hukum. Kalau benar saya bersalah maka saya mencoba memproses kasus ini agar kebenaran terjawab dengan hukum yang berlaku di negara ini,” tegasnya. KSPK Polres Kupang Kota Aipda Mikael Wila Here mengatakan, pihaknya sudah menerima laporan dan akan meneruskan laporan itu ke penyidik PPA. (aje)

Pelaku Pencuri Uang Dari Jaringan palembang

KAPOLRES Kupang Kota AKBP Tito Basuki Priyatno mengatakan, dua orang pelaku pencurian uang dalam mobil dengan modus memecahkan kaca mobil yaitu Muhammad Zini dan Sony, adalah kelompok pencuri profesional berasal dari Palembang, Sumatera Selatan. Keduanya diduga bagian dari jaringan pencurian Palembang yang belum ditangkap Polda Sumatera Selatan.
“Saya menduga mereka sudah lama beroperasi di Kupang, karena sudah mengetahui jalur-jalur di Kota Kupang. Selama berada di Kota Kupang mereka tinggal di hotel. Mereka ini sudah menjadi target operasi polisi sebagai akibat dari maraknya kasus pencurian dengan modus memecahkan kaca mobil,” ujar Kapolres Tito, kepada VN, Kamis (11/9).
Menurut Kapolres Tito, sesuai hasil pengembangan penyelidikan, kedua pelaku itu sudah lama beroperasi di Kota Kupang. Buktinya, sudah banyak korban kasus kehilangan uang di dalam mobil maupun bagasi motor.  “Setelah kita melakukan sketsa wajah, ternyata keduanya adalah jaringan pencurian uang dalam mobil dari Palembang, Medan, Lampung, dan Jambi. Walaupun sesuai hasil pengakuan pelaku berasal  dari Jakarta,” ujarnya.
Kapolres Tito menyatakan, kedua pelaku sedang diperiksa intensif oleh penyidik, untuk mengetahui dengan pasti apakah jaringan mereka masih ada di sini atau tidak. “Jaringan ini sudah lama menjadi target polisi. Cuma beberapa kali pelaku sering menghilangkan jejak, tetapi polisi tetap melakukan pengembanganpenyelidikan dari berbagai kasus yang terjadi.
Saat ini kita sedang telusuri dengan data yang kita kumpulkan, lalu sinkronkan dengan data pelaku pencurian di Palembang,” tegasnya. Dikatakan Kapolres Tito, alat yang digunakan pelaku sudah masuk kategori canggih karena saat beraksi, pelaku hanya menekan menggunakan cincin di bagian kaca, tidak lama kemudian pecah.  Sebelumnya diberitakan Buser Polres Kupang Kota berhasil menangkap satu orang pelaku pencurian uang dalam mobil dan bagasi motor yang sering meresahkan warga Kota Kupang.
Pelaku yang ditangkap adalah Muhamad Zini, sementara temannya Sony berhasil melarikan diri. “Saat ini polisi terus memburu Sony yang kabur saat penangkapan di Beer and Barrel Kupang, Rabu (10/9),” ujar Wakapolres Kupang Kota Kompole Julian Perdana. (aje)

Ajhar Jowe





Tukang Ojek Jadi Maneger



URBANUS-REKO

Namun, bagi Urbanus Reko, hidup perlu diperjuangkan secara serius. Bagi pria kelahiran Ende 23 November 1971 ini, cita-cita boleh setinggi langit.
Namun bila tidak dibarengi dengan usaha dan kerja keras, maka mimpi indah tidak akan mungkin menjadi kenyataan. Sejak mahasiswa, suami dari Theresia Ety Wau ini, punya cita-cita menjadi seorang pegawai negeri sipil (PNS).
Dari latar belakang keluarga yang sederhana, Banus (sapaan Urbanus Reko) ingin langsung bekerja setelah kuliah. Makanya, ia memilih kuliah di STIM Oematonis Kupang. Dalam perjalanan kualiahnya, ia selalu berpikir bagaimana membiayai hidup dan kuliah tanpa merepotkan orangtua.
Dengan tekad membaja, Banus nekat mencari pekerjaan di luar jam kuliah. Dan satu-satunya sumber pencarian uang yang mudah adalah menjadi tukang ojek.
“Kuliah sambil ojek jadi tantangan saya dalam perjalanan hidup di Kota Kupang. Orang tidak mampu seperti saya, yang penting harus mampu membiayai diri sendiri. Apalagi dengan latar belakang orang tidak mampu, harus kuliah di Kupang,” ujar Banus dalam obrolannya dengan media, beberapa waktu lalu.
Setelah menyelesaikan kuliah tahun 2001, profesi sebagai tukang ojek tetap digeluti demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Suatu saat, Banus melamar bekerja di Koperasi Kredit (Kopdit) Solidaitas yang berkantor di belakang Gereja St Asumpta Kayu Putih. Ia dipercayakan sebagai tenaga lapangan dengan honor Rp 150.000/bulan.
“Saya terima karena dalam pikiran saya bisa ojek sambil menagih uang koperasi di nasabah. Istilahnya, ojek sambil menagih. Memang berat, apalagi harus mengejar setoran untuk pemilik motor. Tetapi bagaimana kita memanfaatkan waktu ini demi menyelamatan dua profesi berjalan sama-sama,” ungkapnya.
Kerja kerasnya membuatnya mampu menjalankan dua pekerjaan secara baik. Dalam benak Banus, ia harus maju dan memiliki hidup lebih baik dari sebelumnya.
Banus lagi-lagi menciptakan lapangan kerja baru bagi dirinya. Ia memanfaatkan waktu luang untuk memelihara babi. Dari tiga pekerjaan tersebut, Banus banyak menimba ilmu khususnya soal tekad dan keinginan mengubah nasib.
Setelah tiga tahun (2002-2005) menjadi petugas penagihan di Kopdit Solidaritas, sebagai penagih lapangan, akhirnya pada tanggal 16 Oktober 2005, ia dipercaya oleh pengurus Koperasi sebagai manager.
“Saya diangkat menjadi Manager dengan anggota baru 250 orang dan aset yang dikelola baru mencapai Rp 566 juta, plus satu orang staf di kantor dan beberapa petugas lapangan (penagihan),” ujarnya. Jadi manajer, bukan lantas membuat Banus duduk ongkang-ongkang kaki, namun beban tugasnya pun semakin berat.
Ia juga harus turun sebagai petugas lapangan demi membantu perkembangan Kopdit yang berdiri pada tahun 1991 itu. Pada tahun 2006 pertumbuhan Kopdit Solidaritas kian maju. Dari anggota yang hanya 250-an orang, bertambah menjadi 2.300 anggota.
“Itu anggota biasa. Kalau anggota luar biasa sudah mencapai 3.500 orang. Saya bersyukur, Kopdit Solidaritas sekarang sudah lebih maju karena produk baik simpan maupun pinjam sangat membantu anggota,” ujarnya.
Di akahir obrolannya, Banus mengaku sangat yakin dan percaya akan pertumbuhan ekonomi masyarakat NTT jika bergabung dengan koperasi. (Ajhar)
Nama          : Urbanus Reko
TTL             : Ende, 25 November 1971
Jabatan        : Manager Koperasi Kredit Solidaritas
 Hobi            : Olahraga
 Istri              : Theresia Ety Wau
 Pendidikan  : STIM Oematonis Kupang
Motto          : Cita-cita tanpa usaha dan kerja keras, maka mimpi indah tidak mungkin menjadi kenyataan