Bukti Kerukunan Umat Beragama di NTT
Mentri Agama Republik Indonesia H. Suryadharma Ali sementara berjabat tangan dengan salah suster di Halaman Gareja Asupmta Kupang
Selasa, 28 Mei 2013
Bawaslu NTT Siap Menghadapi Somasi
KETUA
Bawaslu NTT, Nelce Ringu memastikan pihaknya siap menghadapi somasi yang
diajukan oleh Lusia Adinda Lebu Raya. Nelce yang ditemui, Minggu (26/5)
menilai, pengajuan somasi adalah hak. Panwas siap mempertanggungjawabkan
keputusan lembaga untuk memproses sebuah kasus pelanggaran dalam pilkada.
Saat
ini, pihaknya sedang melakukan kajian terhadap sejumlah dugaan pelanggaran.
Bukan saja soal dugaan money politics tetapi juga dugaan lain sperti
pelanggaran pada masa tenang dan penggunaan fasilitas dinas, yang semuanya bisa
berindikasi pelanggaran pidana.
Ketika
ditanya soal tindak lanjut penanganan dugaan pelanggaran tersebut, Nelce
mengatakan mempercayakan Panwaslu TTS untuk menanganinya. pada Jumat (24/5),
Bawaslu NTT bersama Bawaslu Pusat sudah turun melakukan supervisi ke TTS, baik
soal pengawasan, perhitungan suara maupun penanganan kasus. Diakuinya, panwaslu
sudah mengumpulkan sejumlah bukti baik berupa rekaman suara, foto, uang,
keterangan saksi yang sudah cukup.
Dia
mengimbau semua pihak untuk tidak cepat mengambil kesimpulan dan membiarkan
panwaslu bekerja melakukan kajian mengenai aturan apa yang tepat diberlakukan
dalam kasus ini.
Dia
juga memastikan tidak akan ada intervensi dari pihak manapun. Meski memberi
kewenangan kepada Panwaslu TTS, namun Bawaslu NTT akan terus mengawal proses
kasus ini. Diharapkan sesuai ketentuan yang berlaku sebelum 14 hari kasus ini
sudah bisa dilimpahkan ke polisi. Dia juga menjamin bahwa proses kasus ini
tidak akan berhenti di tengah jalan.
Terpisah,
Sekretaris DPD PDIP NTT Nelson Matara mengatakan, rencana somasi dan langkah
hukum memang sudah dibahas serius di tingkat DPD. Namun keputusan untuk kapan
mengajukan somasi dan menempuh langkah hukum, masih menunggu keputusan melalui
rapat.
Kita
belum putuskan untuk ajukan somasi walaupun sudah membahas di tingkat DPD,รข??
katanya.
DPD
PDIP, katanya, sejauh ini masih konsentrasi pada proses perhitungan suara. Kami
masih konsentrasi pada hasil pilgub putaran kedua ini. Persoalan di Tubuhue itu
sudah dibahas, namun kapan mengambil langkah hukum dan somasi kita belum
putuskan, katanya.
Dia
menyarankan VN untuk mengkonfirmasi langsung kepada Lusia Lebu Raya. Sekitar
pukul 15:15 wita, VN mendatangi kediaman Cagub Frans Lebu Raya di Jalan Thamrin
Oepoi, Kupang guna mengkonfirmasi rencana somasi dan langkah hukum. Namun,
Lusia belum bisa ditemui. Ibu baru pulang dari kegiatan. Masih capek, belum
bisa ditemui, kata petugas keamanan di rumah tersebut. (aje))
Menag Minta NTT Jaga Kerukunan
MENTERI
Agama (Menag) Suryadharma Ali meminta kepada seluruh masyarakat NTT agar selalu
menjaga kerukunan hidup antarumat beragama yang sudah terjalin selama ini.
Agama jangan dipakai sebagai alat politik.
Mari
kita cegah, jangan sampai pihak yang menggosok atara agama satu dengan agama
lain karena persoalan politik. Ini perlu kita jaga bersama agar kehidupan di NTT
yang rukun tetap terjaga, kata Menag Suryadharma Ali dalam sambutannya pada
acara peletakan batu pertama renovasi Gereja Santa Maria Asumpta, Peresmian
Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Kupang, dan peresmian Gedung FKUB
NTT.
Semua
agama memiliki prinsip dan kebebasan masing-masing dalam melakukan aktivitas
sesuai ajaran agamanya,katanya.
Dia
meminta para tokoh agama di NTT untuk senantiasa memahami prinsip-prinsip yang
diterapkan setiap agama. Prinsip-prinsip yang diterapkan oleh masing-masing
agama perlu kita hargai, kita hormati. Sebab, semua berbeda bentuk pelaksanaan dan
sistemnya. Ini yang harus dipahami dan dihormati untuk menjaga kerukunan hidup
yang selama ini terbangun dengan baik, katanya.
Gubernur
NTT Frans Lebu Raya dalam sambutannya mengatakan, Pemerintah Provinsi NTT terus
menaruh harapan pada Pemerintah Pusat dalam rangka percepatan pembangunan di
NTT, termasuk di bidang agama.
Provinsi
NTT, katanya, adalag provinsi kepulauan yang didiami beragam suku, agama dan
budaya. Meski demikian, masyarakat NTT tetap hidup dalam suasana kebersamaan
yang rukun dan damai.
Uskup
Agung Kupang, Mgr Petrus Turang SVD dalam sambutannya mengatakan, kunjungan
Menteri Agama ke Kupang merupakan salah satu wujud kerukunan umat beragama di
NTT. Ia mengakui bahwa Menag Suryadharma Ali sangat memberikan perhatian kepada
NTT. (aje)
Frans Bantah Beli Suara
CALON
Gubernur NTT dari paket Frenly, Frans Lebu Raya membantah keras tudingan kubu
Esthon-Paul tentang upaya DPD PDIP Lembata membeli 10.000 suara dari paket
Esthon-Paul.
"Tidak
mungkin kalau Ketua DPC PDIP Lembata membeli suara dari Gerindra. Tidak mungkin
terjadi beli suara golput dari Gerindra. Memangnya golput itu miliknya
Gerindra tegas Frans di Kupang, Senin (27/5).
Frans
yang juga adalah Ketua DPD PDIP NTT ini membantah pernyataan yang dilontarkan
kubu Esthon-Paul dalam jumpa pers di Hotel Romyta, Kupang, Minggu (26/5).
Pernyataan tentang upaya membeli suara tersebut diungkap kuasa hukum
Esthon-Paul, Ali Antonius, dan Ketua DPC Gerindra Lembata Yohanes Viane Burin.
Selain
Frans Lebu Raya, bantahan juga disampaikan Sekretaris DPD PDIP NTT Nelson
Matara. DPD PDIP NTT menyatakan segera meminta klarifikasi dari DPC PDIP
Lembata dalam Rapat Pimpinan Daerah (Rapimda) PDIP se-NTT, hari ini.
"Kami
akan minta klarifikasi dari Ketua DPC Lembata untuk menjelaskan duduk persoalan
yang terjadi di sana. Apakah tindakan tersebut dilakukan atau tidak, kita akan
buktikan pada Rapimda DPD PDIP NTT yang akan berlangsung besok," tegas
Nelson Matara kepada VN di Sekretariat PDIP NTT, kemarin.
Terkait
sikap PDIP terhadap dugaan penyimpangan yang ditudingkan Gerindra, Nelson
mengaku PDIP belum bersikap. "Partai belum perintahkan untuk bersikap.
Kami belum mendapat perintah dari pimpinan," ujarnya.
Yohanes
Burin yang di konfirmasi VN kemarin, menolak berkomentar. "Saya tidak bisa
komentar. Saya akan cari waktu untuk klarifikasi semuanya ini," ujarnya
dari balik telepon genggamnya.
Terpisah,
Ketua Panwaslu Kabupaten Lembata Rafael Boli mengaku baru mendengar informasi
tersebut kemarin pagi dari Ketua DPC Gerindra Lembaya Yohanes Viane K Burin.
"Kita sudah upayakan mengundang Pak Vian Burin untuk datang berikan
klarifikasi. Tapi yang bersangkutan masih di Kupang," kata Rafael.
Kasus Insana
Sementara
itu, Panwaslu Kabupaten TTU telah menerima pengaduan atas dugaan terjadinya
pengumpulan kembali C1 KWK yang dilakukan oknum tertentu di Kecamatan Insana
Induk.
"Kami
sudah minta klarifikasi dari Panwascam Insana Induk, dan segera mengecek
langsung ke lapangan guna mendapat klarifikasi dari saksi, PPK, dan pihak
lain," ungkap Juru Bicara Panwaslu Kabupaten TTU Ansel Suni kepada VN,
Senin (27/5) di Kefamenanu.
Hasil
klarifikasi sementara dari Panwascam, kata Ansel, mengumpulan kembali C1 KWK
oleh PPK bertujuan memperbaiki data yang telah diisi oleh saksi pada format C1
KWK karena adanya tambah pemilih sebanyak dua orang, diluar jumlah daftar
pemilih tetap (DPT).
Namun
Ketua PAC Gerindra Kecamatan Insana Induk Fidelis Naihati mengatakan,
permintaan C1 KWK bertujuan mengubah kesalahan pengisian para saksi yang
menggabungkan pemilih tambahan dengan jumlah DPT yang ada. Namun permintaan
tersebut tidak dapat dipenuhi karena format C1 KWK telah dikirim ke DPD
Gerindra NTT.
Sebelumnya
dalam jumpa pers pemaparan hasil perhitungan suara yang dilakukan tim
Esthon-Paul di Hotel Romyta, Minggu (26/5) malam, kuasa hukum Esthon-Paul, Ali
Antonius mengatakan di Lembata, tim Frenly menawarkan kepada Ketua DPC Gerindra
Lembata untuk membeli 10 ribu suara Esthon-Paul.
Yohanes
Burin yang juga hadir pada kesempatan itu mengatakan bahwa upaya pembelian
suara Esthon-Paul itu dilakukan oleh Ketua DPD PDIP Lembata, setelah pemungutan
suara. Yohanes mengaku ditelepon untuk memberi bantuan suara sebesar 10 ribu.
PDIP, katanya, siap membayar berapa saja untuk transaksi itu. Bukti SMS dan
rekamannya sudah dikantongi DPC Gerindra Lembata. "Mereka menyatakan siap
membayar Rp 500 juta secara bertahap karena akan membayar penyelenggara juga,
yakni KPU Lembata," katanya.
Selain
di Lembata, indikasi pelanggaran juga terjadi di TTU. Menurut Beribina, di
Kecamatan Insana, TTU, ketua PPK meminta semua saksi mengumpulkan kembali model
C1 KWK di Kecamatan Insana. Diduga kuat pengumpulan itu untuk tujuan
manipulasi. Sementara di TTS, ada dugaan politik uang di Tubuhue dan di Polen.
(aje)
Senin, 27 Mei 2013
UMK Mulai Jaring Calon Rektor
Demikian dikatakan
Sekretaris Senat Universitas Muhammadiyah Kupang H Saiful Amalo usai proses
penjaringan calon rektor UMK, Jumat (24/5). Dalam penjaringan tersebut, hanya
empat orang yang memenuhi persyaratandari seluruh anggota senat yakni, Prof Dr
Sandy Mariyanto, Dr Jainur Wula, H Saiful Amalo, dan H Razak Sundu.
Menurut Saiful, proses
penjaringan sudah memenuhi syarat dan akan segera diusulkan kepada Pimpinan
Wilayah Muhammadiyah (PWM) NTT untuk dapat dipertimbangkan. Setelah masa
pertimbangan selama 14 hari terhitung mulai dari proses penjaringan,
selanjutnya akan dilaksanakan proses pemilihan.
Para calon yang lolos
seleksi ini masih harus menyiapkan berkas persyaratan lainnya seperti, ijasah
terakhir, keterangan berbadan sehat, kelakuan baik dari kepolisian, SK
pengkatan pertama sebagai dosen, memiliki jabatan akademik yang dikeluarkan
oleh Kementerian Republik Indonesia dan fotokopi kartu anggota Muhammadiyah.
Kita ingin proses
pemilihan rektor UMK yang baru bisa dilaksanakan pada bulan Juni, sebab masa
berakhir rektor sekarang pada 21 Juli mendatang,katanya.
Selain karena masa
berakhir rektor, percepatan pelaksanaan pemilihan rektor juga karena
pertimbangan wisuda yang harus ditandangani oleh rektor yang baru.
Dia menjelaskan,
pejaringan dilakukan oleh tim dan berhak memilih bakal calon rektor dari 21
orang anggota Senat UMK. Masing-masing memilih bakal calon yang meraih suara
terbanyak Sandy Mariyanto, kedua Jainur Wula, ketiga Saiful Amalo, dan terakhir
Razak Sundu.
Proses ini hanya untuk
memenuhi syarat yang akan diusul ke PWM NTT. Setelah dipertimbangkan, maka
proses pemilihan akan segera dilakukan, dan empat nama akan dilampirkan ke ke
Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah.
Wakil Rektor I UMK Dr
Ahmad Atang saat dikonfirmasi terkait tidak masuknya dia dalam bursa calon
rektor UMK periode 2013-2018 mengaku belum memenuhi syarat kepangakatan sebab
kepangkatan yang dimiliki masih di bawah III D. Pangkat saya masih IID. Saya
sadar belum memenuhi syarat, ungkapnya.
Menurutnya, untuk bisa
mencalonkan diri menjadi rektor UMK, harus memenuhi syarat yang telah
digariskan di dalam Statuta Muhammadiyah. Statuta sudah secara tegas
menggariskan bahwa calon rektor yang belum memenuhi syarat tidak boleh ikut dalam
pencalonan.
Dia mengakui lupa
memproses kenaikan pangkatnya saat mengambil program doktor beberapa waktu
lalu. Saya lupa proses kenaikan pangkat yayasan, kata pengamat politik
UMK ini. (aje)
Bawaslu NTT Siap Menghadapi Somasi
KETUA Bawaslu NTT, Nelce
Ringu memastikan pihaknya siap menghadapi somasi yang diajukan oleh Lusia
Adinda Lebu Raya. Nelce yang ditemui, Minggu (26/5) menilai, pengajuan somasi
adalah hak. Panwas siap mempertanggungjawabkan keputusan lembaga untuk memproses
sebuah kasus pelanggaran dalam pilkada.
Saat ini, pihaknya
sedang melakukan kajian terhadap sejumlah dugaan pelanggaran. Bukan saja soal
dugaan money politics tetapi juga dugaan lain sperti pelanggaran pada masa
tenang dan penggunaan fasilitas dinas, yang semuanya bisa berindikasi
pelanggaran pidana.
Ketika ditanya soal
tindak lanjut penanganan dugaan pelanggaran tersebut, Nelce mengatakan
mempercayakan Panwaslu TTS untuk menanganinya. pada Jumat (24/5), Bawaslu NTT
bersama Bawaslu Pusat sudah turun melakukan supervisi ke TTS, baik soal
pengawasan, perhitungan suara maupun penanganan kasus. Diakuinya, panwaslu
sudah mengumpulkan sejumlah bukti baik berupa rekaman suara, foto, uang,
keterangan saksi yang sudah cukup.
Dia mengimbau semua
pihak untuk tidak cepat mengambil kesimpulan dan membiarkan panwaslu bekerja
melakukan kajian mengenai aturan apa yang tepat diberlakukan dalam kasus ini.
Dia juga memastikan
tidak akan ada intervensi dari pihak manapun. Meski memberi kewenangan kepada
Panwaslu TTS, namun Bawaslu NTT akan terus mengawal proses kasus ini.
Diharapkan sesuai ketentuan yang berlaku sebelum 14 hari kasus ini sudah bisa
dilimpahkan ke polisi. Dia juga menjamin bahwa proses kasus ini tidak akan
berhenti di tengah jalan.
Terpisah, Sekretaris DPD
PDIP NTT Nelson Matara mengatakan, rencana somasi dan langkah hukum memang
sudah dibahas serius di tingkat DPD. Namun keputusan untuk kapan mengajukan
somasi dan menempuh langkah hukum, masih menunggu keputusan melalui rapat.
Kita belum putuskan
untuk ajukan somasi walaupun sudah membahas di tingkat DPD, katanya.
DPD PDIP, katanya,
sejauh ini masih konsentrasi pada proses perhitungan suara. Kami masih
konsentrasi pada hasil pilgub putaran kedua ini. Persoalan di Tubuhue itu sudah
dibahas, namun kapan mengambil langkah hukum dan somasi kita belum putuskan,
katanya.
Dia menyarankan VN untuk
mengkonfirmasi langsung kepada Lusia Lebu Raya. Sekitar pukul 15:15 wita, VN
mendatangi kediaman Cagub Frans Lebu Raya di Jalan Thamrin Oepoi, Kupang guna
mengkonfirmasi rencana somasi dan langkah hukum. Namun, Lusia belum bisa
ditemui. Ibu baru pulang dari kegiatan. Masih capek, belum bisa ditemui, kata
petugas keamanan di rumah tersebut. (aje)
Kubu Esthon Ungkap Manipulasi
DALAM jumpa pers tim
Esthon-Paul, Minggu (26/5), diungkap sejumlah upaya manipulasi di sejumlah
daerah, pasca pemungutan suara Pilgub NTT putaran kedua 23 Mei lalu. Salah
satunya melalui upaya membeli suara Esthon-Paul yang diduga dilakukan tim
Frenly di Kabupaten Lembata.
Dugaan manipulasi itu
diungkap kuasa hukum Esthon-Paul Ali Antonius usai Sekretaris DPD Gerindra NTT
Gabriel Beribina dalam jumpa pers tersebut, memaparkan tentang hasil
perhitungan suara yang dilakukan tim Esthon-Paul.
Di Lembata, ungkapnya,
tim Frenly menawarkan Ketua DPC Gerindra Lembata Yohanes Viane Burin untuk
membeli 10 ribu suara Esthon-Paul. "Kami punya bukti kuat rekaman dan
SMS," katanya.
Yohanes Burin yang juga
hadir pada kesempatan yang sama mengatakan bahwa upaya pembelian suara
Esthon-Paul itu dilakukan oleh Ketua DPD PDIP Lembata, setelah pemungutan
suara. Yohanes mengaku ditelepon untuk meminta bantuan suara sebesar 10 ribu.
"Kalau C 1 KWK
diberikan kepada PDIP maka mereka akan melakukan manipulasi suara tanpa
mengubah jumlah perolehan suara Esthon-Paul. PDIP akan melakukan manipulasi
dengan bekerja sama dengan KPU Lembata," papar Yohanes.
PDIP, katanya, siap
membayar berapa saja untuk transaksi itu. Bukti SMS dan rekamannya sudah
dikantongi DPC Gerindra Lembata. "Mereka menyatakan siap membayar Rp 500
juta secara bertahap karena akan membayar penyelenggara juga, yakni KPU
Lembata," katanya.
Gabriel Beribina
mengatakan, pelanggaran seperti tersebut bukan opini tapi kenyatataan.
"Sebagai bentuk pertanggungjawaban dalam berdemokrasi sehingga kami
transparan membukanya," katanya.
Sekretaris DPD PDIP NTT
Nelson Matara yang dikontak ke ponselnya, semalam, untuk konfirmasi, tidak
memberi respons. Telepon tidak diangkat, dan SMS pun tidak dibalas.
Selain di Lembata,
indikasi pelanggaran juga terjadi di TTU. Ia menambahkan, di Kecamatan Insana,
TTU, ketua PPK meminta semua saksi mengumpulkan kembali model C1 KWK di
Kecamatan Insana. Diduga kuat pengumpulan itu untuk tujuan manipulasi.
Sementara di TTS, ada dugaan politik uang di Tubuhue, dan di Polen.
Anton Ali menambahkan,
fakta putaran kedua ini membuktikan bahwa pada daerah-daerah yang dimenangkan
Frenly, tingkat partisipasi pemilih melebihi putaran pertama. Sementara pada
daerah-daerah yang dimenangkan Esthon-Paul tingkat partisipasinya jauh di bawah
putaran pertama. Diduga ada rekayasa sistematis sehingga terjadi kondisi
seperti ini.
Tentang hasil
penghitungan suara, Beribina mengatakan bahwa Esthon-Paul menang dengan
perolehan 51,07 persen 997.043 suara. Sedangkan paket Frenly memperoleh 48,03
persen atau 931.473 suara. Data ini merupakan hasil perhitungan riil yang
dilakukan pusat data DPD Gerindra NTT.
Dia menambahkan, data
ini mengacu pada model C1 KWK dari seluruh TPS yang dibawa ketua DPC Gerindra
ke DPD gerindra. Data lain yang dibawa serta adalah keganjilan, dan indikasi
manipulasi yang terjadi dalam proses pemungutan dan penghitungan suara.
Hadir dalam jumpa pers
tersebut para ketua dan sekretaris DPC Gerindra kabupaten/kota se NTT, tim
sukses, keluarga, dan pimpinan koalisi parpol, dan tokoh masyarakat.
Sementara itu, kubu
Frenly juga menggelar jumpa pers, kemarin siang di kantor DPD PDIP NTT. Dalam
jumpa pers tersebut, Nelson Matara mengatakan, sesuai perhitungan di kubu
Frenly Minggu (26/5), pasangan ini menang dengan perolehan suara sebanyak
1.058.789 (51,16 persen), mengalahkan Esthon-Paul yang memperoleh 1.010.812
suara (48,84 persen). Total suara yang masuk mencapai 2.069.601 suara dari
total DPT 3.027.283 pemilih.
Nelson mengatakan,
Frenly tidak mengklaim menang, melainkan menyajikan data sesuai model C1 KWK
(catatan hasil penghitungan suara di TPS) yang dikumpulkan dari para saksi
Frenly. Dia mengatakan, sebagian besar model C1 KWK sudah masuk, hanya tersisa
11 TPS yang sampai kemarin belum masuk.
"Kami tidak
bermaksud mendahului KPU, tetapi hasil ini sesuai dengan model C1 KWK dari para
saksi," tegas Nelson.
Sesuai data yang dirilis
dalam jumpa pers tersebut, Frenly unggul di sejumlah kabupaten yaitu TTU, Belu,
Lembata, Flotim, Sikka, Ende, Ngada, Nagekeo, Manggarai Timur, Manggarai,
Manggarai Barat, dan Sumba Barat Daya. Paket ini kalah di Sumba Barat, Sumba
Tengah, Sumba Timur, Alor, Rote Ndao, Sabu Raijua, TTS, Kabupaten Kupang, dan
Kota Kupang.
Pengurus DPD Golkar NTT
Moh Ansor yang hadir dalam jumpa pers tersebut mengatakan, capaian Frenly
tersebut merupakan hasil kerja bersama koalisi PDIP, PKB, PPP, PKS, Hanura, dan
Golkar.
KPU Diminta Netral
Dengan kenyataan saling
klaim kedua kubu tersebut, tokoh agama dan tokoh masyarakat NTT meminta agar
KPU harus independen dan melakukan proses penghitungan secara teliti. Kedua
paket calon pun diminta bersabar menunggu hasil peehitungan KPU sebagai lembaga
yang diberi wewenang menyelenggarakan pilkada.
Demikian imbauan Ketua
MUI NTT Abdul Kadir Makarim dan sesepuh NTT Herman Musakabe.
"Harusnya hasil
dari kedua pihak itu tidak diumumkan, itu konsumsi internal supaya masyarakat
jangan bingung. Itu agar masyarakat hanya menunggu hasil pleno KPU," kata
Makarim. Dia meminta KPU bertindak jujur dan adil dalam melakukan proses penghitungan.
Sementara Musakabe
mengingatkan KPU agar jangan diintervensi. KPU harus benar-benar independen.
"Kita harus jadikan pilgub yang bermartabat. Jika KPU tidak netral, maka
masyarakat tidak akan menghormati demokrasi. Saya berharap, netralitas KPU
tetap dijaga, jangan sampai ada intervensi dari luar. Apalagi C1 KWK ada di
setiap paket calon maupun parpol. Jangan sampai pilgub NTT dinodai hal-hal yang
tidak diinginkan," tandasnya. (aje)
Langganan:
Komentar
(
Atom
)