DALAM jumpa pers tim
Esthon-Paul, Minggu (26/5), diungkap sejumlah upaya manipulasi di sejumlah
daerah, pasca pemungutan suara Pilgub NTT putaran kedua 23 Mei lalu. Salah
satunya melalui upaya membeli suara Esthon-Paul yang diduga dilakukan tim
Frenly di Kabupaten Lembata.
Dugaan manipulasi itu
diungkap kuasa hukum Esthon-Paul Ali Antonius usai Sekretaris DPD Gerindra NTT
Gabriel Beribina dalam jumpa pers tersebut, memaparkan tentang hasil
perhitungan suara yang dilakukan tim Esthon-Paul.
Di Lembata, ungkapnya,
tim Frenly menawarkan Ketua DPC Gerindra Lembata Yohanes Viane Burin untuk
membeli 10 ribu suara Esthon-Paul. "Kami punya bukti kuat rekaman dan
SMS," katanya.
Yohanes Burin yang juga
hadir pada kesempatan yang sama mengatakan bahwa upaya pembelian suara
Esthon-Paul itu dilakukan oleh Ketua DPD PDIP Lembata, setelah pemungutan
suara. Yohanes mengaku ditelepon untuk meminta bantuan suara sebesar 10 ribu.
"Kalau C 1 KWK
diberikan kepada PDIP maka mereka akan melakukan manipulasi suara tanpa
mengubah jumlah perolehan suara Esthon-Paul. PDIP akan melakukan manipulasi
dengan bekerja sama dengan KPU Lembata," papar Yohanes.
PDIP, katanya, siap
membayar berapa saja untuk transaksi itu. Bukti SMS dan rekamannya sudah
dikantongi DPC Gerindra Lembata. "Mereka menyatakan siap membayar Rp 500
juta secara bertahap karena akan membayar penyelenggara juga, yakni KPU
Lembata," katanya.
Gabriel Beribina
mengatakan, pelanggaran seperti tersebut bukan opini tapi kenyatataan.
"Sebagai bentuk pertanggungjawaban dalam berdemokrasi sehingga kami
transparan membukanya," katanya.
Sekretaris DPD PDIP NTT
Nelson Matara yang dikontak ke ponselnya, semalam, untuk konfirmasi, tidak
memberi respons. Telepon tidak diangkat, dan SMS pun tidak dibalas.
Selain di Lembata,
indikasi pelanggaran juga terjadi di TTU. Ia menambahkan, di Kecamatan Insana,
TTU, ketua PPK meminta semua saksi mengumpulkan kembali model C1 KWK di
Kecamatan Insana. Diduga kuat pengumpulan itu untuk tujuan manipulasi.
Sementara di TTS, ada dugaan politik uang di Tubuhue, dan di Polen.
Anton Ali menambahkan,
fakta putaran kedua ini membuktikan bahwa pada daerah-daerah yang dimenangkan
Frenly, tingkat partisipasi pemilih melebihi putaran pertama. Sementara pada
daerah-daerah yang dimenangkan Esthon-Paul tingkat partisipasinya jauh di bawah
putaran pertama. Diduga ada rekayasa sistematis sehingga terjadi kondisi
seperti ini.
Tentang hasil
penghitungan suara, Beribina mengatakan bahwa Esthon-Paul menang dengan
perolehan 51,07 persen 997.043 suara. Sedangkan paket Frenly memperoleh 48,03
persen atau 931.473 suara. Data ini merupakan hasil perhitungan riil yang
dilakukan pusat data DPD Gerindra NTT.
Dia menambahkan, data
ini mengacu pada model C1 KWK dari seluruh TPS yang dibawa ketua DPC Gerindra
ke DPD gerindra. Data lain yang dibawa serta adalah keganjilan, dan indikasi
manipulasi yang terjadi dalam proses pemungutan dan penghitungan suara.
Hadir dalam jumpa pers
tersebut para ketua dan sekretaris DPC Gerindra kabupaten/kota se NTT, tim
sukses, keluarga, dan pimpinan koalisi parpol, dan tokoh masyarakat.
Sementara itu, kubu
Frenly juga menggelar jumpa pers, kemarin siang di kantor DPD PDIP NTT. Dalam
jumpa pers tersebut, Nelson Matara mengatakan, sesuai perhitungan di kubu
Frenly Minggu (26/5), pasangan ini menang dengan perolehan suara sebanyak
1.058.789 (51,16 persen), mengalahkan Esthon-Paul yang memperoleh 1.010.812
suara (48,84 persen). Total suara yang masuk mencapai 2.069.601 suara dari
total DPT 3.027.283 pemilih.
Nelson mengatakan,
Frenly tidak mengklaim menang, melainkan menyajikan data sesuai model C1 KWK
(catatan hasil penghitungan suara di TPS) yang dikumpulkan dari para saksi
Frenly. Dia mengatakan, sebagian besar model C1 KWK sudah masuk, hanya tersisa
11 TPS yang sampai kemarin belum masuk.
"Kami tidak
bermaksud mendahului KPU, tetapi hasil ini sesuai dengan model C1 KWK dari para
saksi," tegas Nelson.
Sesuai data yang dirilis
dalam jumpa pers tersebut, Frenly unggul di sejumlah kabupaten yaitu TTU, Belu,
Lembata, Flotim, Sikka, Ende, Ngada, Nagekeo, Manggarai Timur, Manggarai,
Manggarai Barat, dan Sumba Barat Daya. Paket ini kalah di Sumba Barat, Sumba
Tengah, Sumba Timur, Alor, Rote Ndao, Sabu Raijua, TTS, Kabupaten Kupang, dan
Kota Kupang.
Pengurus DPD Golkar NTT
Moh Ansor yang hadir dalam jumpa pers tersebut mengatakan, capaian Frenly
tersebut merupakan hasil kerja bersama koalisi PDIP, PKB, PPP, PKS, Hanura, dan
Golkar.
KPU Diminta Netral
Dengan kenyataan saling
klaim kedua kubu tersebut, tokoh agama dan tokoh masyarakat NTT meminta agar
KPU harus independen dan melakukan proses penghitungan secara teliti. Kedua
paket calon pun diminta bersabar menunggu hasil peehitungan KPU sebagai lembaga
yang diberi wewenang menyelenggarakan pilkada.
Demikian imbauan Ketua
MUI NTT Abdul Kadir Makarim dan sesepuh NTT Herman Musakabe.
"Harusnya hasil
dari kedua pihak itu tidak diumumkan, itu konsumsi internal supaya masyarakat
jangan bingung. Itu agar masyarakat hanya menunggu hasil pleno KPU," kata
Makarim. Dia meminta KPU bertindak jujur dan adil dalam melakukan proses penghitungan.
Sementara Musakabe
mengingatkan KPU agar jangan diintervensi. KPU harus benar-benar independen.
"Kita harus jadikan pilgub yang bermartabat. Jika KPU tidak netral, maka
masyarakat tidak akan menghormati demokrasi. Saya berharap, netralitas KPU
tetap dijaga, jangan sampai ada intervensi dari luar. Apalagi C1 KWK ada di
setiap paket calon maupun parpol. Jangan sampai pilgub NTT dinodai hal-hal yang
tidak diinginkan," tandasnya. (aje)
Tidak ada komentar :
Posting Komentar