Senin, 27 Mei 2013

Kubu Esthon Ungkap Manipulasi

DALAM jumpa pers tim Esthon-Paul, Minggu (26/5), diungkap sejumlah upaya manipulasi di sejumlah daerah, pasca pemungutan suara Pilgub NTT putaran kedua 23 Mei lalu. Salah satunya melalui upaya membeli suara Esthon-Paul yang diduga dilakukan tim Frenly di Kabupaten Lembata.
Dugaan manipulasi itu diungkap kuasa hukum Esthon-Paul Ali Antonius usai Sekretaris DPD Gerindra NTT Gabriel Beribina dalam jumpa pers tersebut, memaparkan tentang hasil perhitungan suara yang dilakukan tim Esthon-Paul.
Di Lembata, ungkapnya, tim Frenly menawarkan Ketua DPC Gerindra Lembata Yohanes Viane Burin untuk membeli 10 ribu suara Esthon-Paul. "Kami punya bukti kuat rekaman dan SMS," katanya.
Yohanes Burin yang juga hadir pada kesempatan yang sama mengatakan bahwa upaya pembelian suara Esthon-Paul itu dilakukan oleh Ketua DPD PDIP Lembata, setelah pemungutan suara. Yohanes mengaku ditelepon untuk meminta bantuan suara sebesar 10 ribu.
"Kalau C 1 KWK diberikan kepada PDIP maka mereka akan melakukan manipulasi suara tanpa mengubah jumlah perolehan suara Esthon-Paul. PDIP akan melakukan manipulasi dengan bekerja sama dengan KPU Lembata," papar Yohanes.
PDIP, katanya, siap membayar berapa saja untuk transaksi itu. Bukti SMS dan rekamannya sudah dikantongi DPC Gerindra Lembata. "Mereka menyatakan siap membayar Rp 500 juta secara bertahap karena akan membayar penyelenggara juga, yakni KPU Lembata," katanya.
Gabriel Beribina mengatakan, pelanggaran seperti tersebut bukan opini tapi kenyatataan. "Sebagai bentuk pertanggungjawaban dalam berdemokrasi sehingga kami transparan membukanya," katanya.
Sekretaris DPD PDIP NTT Nelson Matara yang dikontak ke ponselnya, semalam, untuk konfirmasi, tidak memberi respons. Telepon tidak diangkat, dan SMS pun tidak dibalas.
Selain di Lembata, indikasi pelanggaran juga terjadi di TTU. Ia menambahkan, di Kecamatan Insana, TTU, ketua PPK meminta semua saksi mengumpulkan kembali model C1 KWK di Kecamatan Insana. Diduga kuat pengumpulan itu untuk tujuan manipulasi. Sementara di TTS, ada dugaan politik uang di Tubuhue, dan di Polen.
Anton Ali menambahkan, fakta putaran kedua ini membuktikan bahwa pada daerah-daerah yang dimenangkan Frenly, tingkat partisipasi pemilih melebihi putaran pertama. Sementara pada daerah-daerah yang dimenangkan Esthon-Paul tingkat partisipasinya jauh di bawah putaran pertama. Diduga ada rekayasa sistematis sehingga terjadi kondisi seperti ini.
Tentang hasil penghitungan suara, Beribina mengatakan bahwa Esthon-Paul menang dengan perolehan 51,07 persen 997.043 suara. Sedangkan paket Frenly memperoleh 48,03 persen atau 931.473 suara. Data ini merupakan hasil perhitungan riil yang dilakukan pusat data DPD Gerindra NTT.
Dia menambahkan, data ini mengacu pada model C1 KWK dari seluruh TPS yang dibawa ketua DPC Gerindra ke DPD gerindra. Data lain yang dibawa serta adalah keganjilan, dan indikasi manipulasi yang terjadi dalam proses pemungutan dan penghitungan suara.
Hadir dalam jumpa pers tersebut para ketua dan sekretaris DPC Gerindra kabupaten/kota se NTT, tim sukses, keluarga, dan pimpinan koalisi parpol, dan tokoh masyarakat.
Sementara itu, kubu Frenly juga menggelar jumpa pers, kemarin siang di kantor DPD PDIP NTT. Dalam jumpa pers tersebut, Nelson Matara mengatakan, sesuai perhitungan di kubu Frenly Minggu (26/5), pasangan ini menang dengan perolehan suara sebanyak 1.058.789 (51,16 persen), mengalahkan Esthon-Paul yang memperoleh 1.010.812 suara (48,84 persen). Total suara yang masuk mencapai 2.069.601 suara dari total DPT 3.027.283 pemilih.
Nelson mengatakan, Frenly tidak mengklaim menang, melainkan menyajikan data sesuai model C1 KWK (catatan hasil penghitungan suara di TPS) yang dikumpulkan dari para saksi Frenly. Dia mengatakan, sebagian besar model C1 KWK sudah masuk, hanya tersisa 11 TPS yang sampai kemarin belum masuk.
"Kami tidak bermaksud mendahului KPU, tetapi hasil ini sesuai dengan model C1 KWK dari para saksi," tegas Nelson.
Sesuai data yang dirilis dalam jumpa pers tersebut, Frenly unggul di sejumlah kabupaten yaitu TTU, Belu, Lembata, Flotim, Sikka, Ende, Ngada, Nagekeo, Manggarai Timur, Manggarai, Manggarai Barat, dan Sumba Barat Daya. Paket ini kalah di Sumba Barat, Sumba Tengah, Sumba Timur, Alor, Rote Ndao, Sabu Raijua, TTS, Kabupaten Kupang, dan Kota Kupang.
Pengurus DPD Golkar NTT Moh Ansor yang hadir dalam jumpa pers tersebut mengatakan, capaian Frenly tersebut merupakan hasil kerja bersama koalisi PDIP, PKB, PPP, PKS, Hanura, dan Golkar.
KPU Diminta Netral
Dengan kenyataan saling klaim kedua kubu tersebut, tokoh agama dan tokoh masyarakat NTT meminta agar KPU harus independen dan melakukan proses penghitungan secara teliti. Kedua paket calon pun diminta bersabar menunggu hasil peehitungan KPU sebagai lembaga yang diberi wewenang menyelenggarakan pilkada.
Demikian imbauan Ketua MUI NTT Abdul Kadir Makarim dan sesepuh NTT Herman Musakabe.
"Harusnya hasil dari kedua pihak itu tidak diumumkan, itu konsumsi internal supaya masyarakat jangan bingung. Itu agar masyarakat hanya menunggu hasil pleno KPU," kata Makarim. Dia meminta KPU bertindak jujur dan adil dalam melakukan proses penghitungan.
Sementara Musakabe mengingatkan KPU agar jangan diintervensi. KPU harus benar-benar independen. "Kita harus jadikan pilgub yang bermartabat. Jika KPU tidak netral, maka masyarakat tidak akan menghormati demokrasi. Saya berharap, netralitas KPU tetap dijaga, jangan sampai ada intervensi dari luar. Apalagi C1 KWK ada di setiap paket calon maupun parpol. Jangan sampai pilgub NTT dinodai hal-hal yang tidak diinginkan," tandasnya. (aje)


Tidak ada komentar :

Posting Komentar