BILA pada Pemilu
2009 lalu, wajah calon Dewan Perwakilan Daerah (DPD) diisi tokoh agama, tokoh
masyarakat, pengusaha, profesional, akademisi, dan aktivis, maka pada Pemilu
2014 tokoh partai politik dan mantan pejabat pun tak mau ketinggalan berebut
kue DPD.
Sebut saja Ketua
DPD I Partai Golkar NTT Ibrahim Medah, anggota Fraksi Golkar DPRD NTT yang juga
mantan Bupati Sikka Paulus Moa, anggota Fraksi Golkar dan mantan Ketua DPRD
Alor tiga periode John Blegur, serta Wakil Bupati Sikka Wera Damianus pun ikut
mendaftar.
Ada juga mantan
anggota DPRD NTT dan pengurus DPD Demokrat NTT Pius Rengka, mantan pengurus DPW
Partai Patriot NTT Wihers Herewila, Ketua DPW PPRN NTT Rudi Tonubessi, mantan
anggota DPRD NTT Markus Hendrik, dan mantan Ketua DPC PDIP Kabupaten Kupang
Maria Nuban Saku.
Fenomena ini tentu
membuat persaingan merebut kursi DPD semakin kompetitif. Para mantan pejabat
birokrat, pengusaha, akademisi, dan aktivis harus bertarung melawan calon dari
parpol yang terkenal mempunyai basis massa yang terorganisir dan memiliki mesin
politik.
Belum lagi tiga
dari empat anggota DPD RI periode 2009-2014 yang juga akan maju. Mereka adalah
Sarah Lery Mboeik, Abraham Paul Liyanto, dan Carolina Nubatonis. Sementara
Emanuel Babu Eha turun berlaga di arena DPR RI dari Partai Demokrat.
Lalu, apa alasan
para calon bertarung untuk merebut empat jatah kursi DPD RI? Apakah sekadar
pelarian karena tidak diakomodir parpol? atau apakah karena tidak ada kerjaan
lain?
John Th Blegur
kepada VN, Jumat (3/5) mengaku salah satu faktor yang mendorongnya untuk
berpindah haluan karena tidak dalam daftar caleg DPR RI dari Golkar. Pada
detik-detik akhir, DPP Golkar mencoret namanya dan memasukan nama Melki Laka
Lena.
Baik John Th
Blegur maupun Paulus Moa, niat mereka untuk maju sebagai anggota DPD bukan
sekadar pelarian tapi ingin memperjuangkan kepentingan rakyat NTT. Keduanya
ingin membawa dan memperjuangkan aspirasi rakyat NTT ke tingkat Pusat.
Sementara bagi
Pius Rengka, menjadi anggota DPD tidak hanya sekadar melengkapi keterwakilan
NTT di Jakarta. Tetapi, lebih dari itu ingin membawa sesuatu yang bermakna
sebagai seorang senator di Senayan.
"Track record
saya cukup baik. Saya pun merasa punya capacity dan integrity yang baik untuk
mempresentasikan keinginan rakyat NTT sehingga saya layak duduk di DPD
RI," tegas Rengka.
Pengusaha kondang
Pieter Pitoby mengatakan, prestise dan kekuasaan bukan menjadi alasan dirinya
maju. Namun, dia terpanggil untuk berbakti kepada rakyat NTT. "Saya tidak
perlu prestise dan lain-lain. Karena saya sudah mempunyai prestise sebelum saya
menjadi hamba Tuhan," ujarnya.
Seandainya
terpilih, Pieter optimistis dapat berbuat lebih banyak bagi rakyat termasuk
pelayanan publik yang dirasakan masih jauh dari harapan seluruh rakyat NTT.
Peluang Sama
Analis politik
Universitas Nusa Lontar (Unstar) Rote Ndao Daniel Babu kepada VN, Sabtu (4/5)
petang menilai, peluang tokoh parpol duduk sebagai senator, tergantung seberapa
populer figur itu sendiri.
"Semakin
populer figur parpol, semakin mudah dia bersosialisasi. Namun karena
mekanismenya pemilihan langsung, maka peluang figur di luar parpol pun besar.
Jadi peluang tetap sama," jelasnya.
Dijelaskan,
komposisi perolehan suara pada Pemilu 2009 lalu yang meloloskan Sarah Lery
Mboeik, Carolina Nubatonis, Emanuel Babu Eha, dan Paul Liyanto, bisa dijadikan
pembelajaran bagi bahwa, rakyat NTT sangat menginginkan aspirasi mereka
didengar Pemerintah Pusat.
"Saya menilai
kiprah dan kinerja anggota DPD lalu cukup baik. Soal gaungnya kurang terdengar,
itu dialami juga anggota DPD daerah lain karena memang kewenangan, fungsi, dan
peran DPD terbatas. Mungkin setelah MK menyamaratakan DPD, DPR, dan Pemerintah,
akan ada perubahan," tambahnya.
Analis politik
Undana Kupang David Pandie mengkritisi praktik kutu loncat yang dilakukan
politisi dengan mencalonkan diri sebagai anggota DPD.
"Memang
aturan tidak melarang namun butuh kejelasan figur dalam partai bila mencalonkan
sebagai anggota DPD. Perlu ada sikap dari DPP partai politik juga terkait
kadernya yang memilih DPD," katanya.
Menurut dia,
politisi memang mencari ruang untuk berpolitik. Asalkan benar-benar
memperjuangkan kepentingan rakyat bukan untuk posisi aman bagi diri sendiri.
"Jangan mencari pekerjaan di dunia politik, karena dunia ini butuh
ideologi demi kepentingan rakyat," tegasnya.(aje)
aneh . saling berebut jadi angota dewan. obat penyakit asam urat
BalasHapus