Di pulau Kera lautan terpinggir seperti
seorang ibu dalam jernih putih bersih menang
Kukuh disetiap waktu.
Sedaratan Laut Pulau ini, aku hidup dan dilahirkan sebauh pulau
yang kas pulau yang kadang orang membicarakan berbisik parau, menjadikanku ragu
sebagai anak negeri disini.
Aku ingin maju dan mandiri, bukan hanya berdiri menunggu dan termangu walau kata orang
pulau ini. Pulau diatas sangketa perebutan tuan tanah, diatas derita kering,
panas, terpencil dan kumuh dalam kesukuan
bahasa, namun kata ibu aku tak harus mendengar angin diatas batu yang terus membalu
menghilang melalui makam orang-orang tak dikenal. Memang aku, terlahir dari
rahim ibuku, bertempat tanah terkucil dalam pulau kelahiranku.
Dipulau ini, walau aku dibesarkan berliring tangis dari kebodohan, namun hanya
ku bisa tetap menunggu, terkadang ku menangis dan berharap ingin layak seperti anak-anak
mereka digemerlapan lampu-lampu kota disana.
Dalam hatiku, aku menjadi anak negeri yang tumbuh sehat, cerdas dan akan menggapai berpendidikan yang layak, bukan
menjadi anak negeri seperti terdampar hilang dipesesir negeri
sendiri.
Oleh :
Mahajo
Siswa :
Kelas III SD
MIS Pulau Kera

Tidak ada komentar :
Posting Komentar