ENDE, Bung
Karno, dan Pancasila memiliki temali historis setidaknya dalam dua perkara
besar berbangsa dan bernegara Indonesia. Yaitu, Pancasila dan kemerdekaan.
Ende, sebuah
kota kabupaten di Pulau Flores, menjadi salah satu tempat pembuangan seorang
Bung Karno muda sebagai sanksi atas perjuangannya memerdekakan Indonesia dari
Belanda. Tetapi Ende juga dipercaya sebagai tempat yang mengilhami pergumulan
pikiran Bung Karno tentang Pancasila.
Kehadiran Wakil
Presiden Boediono di Ende pada hari ini tidak semata sebuah kunjungan seorang
pejabat saja. Dia lebih dan harus dimaknai sebagai apresiasi terhadap sejarah
perjuangan fisik dan pergumulan ideologi seorang Bung Karno.
Bung Karno dan
Pancasila sekarang ini mengalami kemerosotan apresiasi. Bung Karno sebagai
pahlawan mulai tertimbun zaman, dan Pancasila sebagai ideologi negara kian
tersingkir pragmatisme.
Kehadiran Wapres
Boediono di Ende hari ini adalah sebuah koreksi keras terhadap pengabaian kita
terhadap apa yang disebut dokumen dan monumen. Rehabilitasi situs Bung Karno di
Ende adalah pengabadian dokumen Bung Karno menjadi monumen Bung Karno.
Bangsa ini
menjadi bangsa kejam karena di beberapa tempat tidak ada lagi kesadaran dokumen
dan monumen itu. Sepinya museum dan perpustakaan di negeri kita adalah cermin
dari kekejaman itu.
Komodo dan
Kelimutu sekarang dipaksakan untuk menjadi ikon keterkenalan NTT. Akal sehat
kita bertanya, apa kurangnya Bung Karno sehingga tidak menjadi ikon
keterkenalan Ende?
Sebagaimana
pemerintah NTT dipaksa berpikir holistik menduniakan Komodo, mengapa tidak ada
upaya holistik juga untuk menduniakan Ende melalui Bung Karno? Ini adalah
cermin kemiskinan budaya apresiasi. (Editorial VN).
Tidak ada komentar :
Posting Komentar