Jumat, 07 Juni 2013

Sinar Bung Karno Dari Kota Ende



ENDE, Bung Karno, dan Pancasila memiliki temali historis setidaknya dalam dua perkara besar berbangsa dan bernegara Indonesia. Yaitu, Pancasila dan kemerdekaan.
Ende, sebuah kota kabupaten di Pulau Flores, menjadi salah satu tempat pembuangan seorang Bung Karno muda sebagai sanksi atas perjuangannya memerdekakan Indonesia dari Belanda. Tetapi Ende juga dipercaya sebagai tempat yang mengilhami pergumulan pikiran Bung Karno tentang Pancasila.
Kehadiran Wakil Presiden Boediono di Ende pada hari ini tidak semata sebuah kunjungan seorang pejabat saja. Dia lebih dan harus dimaknai sebagai apresiasi terhadap sejarah perjuangan fisik dan pergumulan ideologi seorang Bung Karno.
Bung Karno dan Pancasila sekarang ini mengalami kemerosotan apresiasi. Bung Karno sebagai pahlawan mulai tertimbun zaman, dan Pancasila sebagai ideologi negara kian tersingkir pragmatisme.
Kehadiran Wapres Boediono di Ende hari ini adalah sebuah koreksi keras terhadap pengabaian kita terhadap apa yang disebut dokumen dan monumen. Rehabilitasi situs Bung Karno di Ende adalah pengabadian dokumen Bung Karno menjadi monumen Bung Karno.
Bangsa ini menjadi bangsa kejam karena di beberapa tempat tidak ada lagi kesadaran dokumen dan monumen itu. Sepinya museum dan perpustakaan di negeri kita adalah cermin dari kekejaman itu.
Komodo dan Kelimutu sekarang dipaksakan untuk menjadi ikon keterkenalan NTT. Akal sehat kita bertanya, apa kurangnya Bung Karno sehingga tidak menjadi ikon keterkenalan Ende?
Sebagaimana pemerintah NTT dipaksa berpikir holistik menduniakan Komodo, mengapa tidak ada upaya holistik juga untuk menduniakan Ende melalui Bung Karno? Ini adalah cermin kemiskinan budaya apresiasi. (Editorial VN).



Tidak ada komentar :

Posting Komentar