PADA kancah pertarungan putaran kedua Pilgub NTT, wilayah Manggarai Raya sejauh ini masih menjadi wilayah tak bertuan. Pada putaran pertama pilgub, mayoritas dukungan di wilayah ini mengalir ke paket Cristal (Christian Rotok-Paul Liyanto) dan BKH-Nope (Beny Kabur Harman-Welem Nope). Dua paket ini yang kalah di putaran pertama ini, belum menyatakan sikap untuk mendukung salah satu paket yang bertarung dalam putaran kedua 15 Mei nanti.
Cristian Rotok menyatakan menyerahkan sepenuhnya kepada rakyat
sebagai pemilik kedaulatan. "Sikap saya sejak awal tidak pernah berubah,
bahwa untuk menentukan siapa gubernur dan wakil gubernur adalah rakyat. Saya
tidak punya kewenangan mengarahkan pendukung CristaL untuk memilih paket
tertentu," tegas Rotok menjawab VN, Sabtu (6/4).
Ia mengungkapkan, Esthon Foenay-Paul Talo dan Frans Lebu
Raya-Benny Litelnoni (Frenly) adalah putra-putra terbaik NTT. Rakyatlah yang
berdaulat menentukan satu dari dua paket ini untuk memimpin NTT. "Saya pun
akan menentukan pilihan pada saat berada di dalam bilik TPS," katanya.
Pada Kamis (4/4) lalu, Frans Lebu Raya berkunjung ke Ruteng. Saat
itu ia mengatakan akan bertemu empat mata dengan Rotok. Menanggapi ini, Rotok
menyatakan siap bertemu. "Silakan Pak Frans kalau mau bertemu saya. Siapa
pun akan saya terima selama saya berada di tempat," ujar Rotok.
Ditanya tentang Forum Manggarai Raya (Formaya) yang mendukung
Esthon-Paul, Rotok menilai itu adalah hak Formaya. "Tapi forum jangan
dibentuk di atas landasan primordial. Lihatlah NTT sebagai suatu kesatuan yang
utuh," tegasnya.
Terpisah, Ketua Tim Pemenangan BKH-Nope Richardus Wawo mengatakan,
sampai saat ini belum menentukan sikap mendukung Esthon-Paul atau Frenly.
"Koalisi bersifat sementara dan tidak permanen, jadi masing-masing berhak
menentukan sikap," tambahnya.
Meski demikian dia mengakui sempat ada rencana untuk menyamakan
persepsi dan menyatukan sikap bersama Koalisi NTT Bangkit. "Namun karena
kesibukan masing-masing, kami agak sulit mempertemukan para pimpinan parpol
anggota koalisi," katanya.
Sementara paket Tunas ((Ibrahim Agustinus Medah-Emanuel Melkiades
Laka Lena), juga belum menentukan arah dukungan politik mereka apakah ke
Esthon-Paul atau Frenly.
Paket Tunas, kata Laka Lena, kemarin, masih konsentrasi menggugat
hasil pilgub di Mahkamah Konstitusi (MK). "Kami masih fokus pada gugatan
di MK. Belum ada keputusan atau pikiran soal dukungan di putaran kedua,"
katanya.
Dia mengakui sejauh ini sudah ada komunikasi dari Esthon-Paul
maupun Frenly mulai dari tingkat pusat hingga ke tim di pelosok desa, namun
Tunas belum menentukan sikap. Tunas baru bersikap setelah ada putusan MK.
Sementara itu, fungsionaris DPP PDIP Andreas Parera mengatakan,
ada tiga basis suara yang menjadi fokus Frenly yakni Sumba, Manggarai, dan
Timor. "Suara dari tiga wilayah ini yang akan menjadi fokus bagi Frenly di
putaran kedua," kata Parena di sela-sela Rakerdasus PDIP NTT di Hotel
Sasando, Kupang, kemarin.
Dia juga mengatakan bahwa pendekatan dengan tiga paket yang kalah
di putaran pertama terus dilakukan. "Pendekatan dengan paket lain yang
tidak masuk dalam putaran kedua, saya kira kita semua tahu bahwa Pak Frans
sudah komunikasi dengan semua. Dengan berbagai cara melalui pendekatan, baik
komunikasi maupun pendekatan lainnya," katanya.
Cagub Esthon yang ditemui terpisah, juga menyatakan melakukan
pendekatan dengan tiga paket tersebut. "Saya sudah bertemu Tunas untuk
meminta dukungan. Pak Paul juga telah berkomunikasi dengan Pak Chris Rotok dan
Pak Benny Harman," katanya.
Tokoh lain yang telah didekati, yakni sesepuh Manggarai Gaspar
Parang Ehok, bersama Tim Gaul (Gaspar Ehok-Yulius Bobo) pada Pilgub NTT 2008
lalu. "Adiknya BKH dan Pius Rengka juga telah menyatakan dukungan ke
Esthon- Paul," katanya.
Esthon
juga menyatakan terus melakukan komunikasi dengan semua tokoh agama. "Kita
dengan semua, seperti dengan MUI, NU maupun Muhammadiyah," katanya.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar