INDIKASI telah terjadi rekayasa dalam proyek
peningkatan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah di Desa Nonohanis, Kabupaten
TTS kian benderang. Hal tersebut dibuktikan oleh pengakuan berbeda-beda yang
dikemukakan pihak-pihak terkait.
Kepada VN, Rabu
(3/4) Kasatker Pengembangan Penyehatan Lingkungan Pemukiman (PPLP) Bidang Cipta
Karya Dinas PU NTT Suhartini Welli mengaku belum ada pemenang tender proyek
senilai Rp 8 miliar tersebut.
Namun pada
Senin (8/4), Suhartini menyampaikan bahwa pemenang tender proyek tersebut
adalah PT Ardi Tekindo Perkasa (ATP) cabang Maumere.
Bahkan
Suhartini memastikan bahwa pekerjaan proyek tersebut bakal dilaksanakan dalam
waktu dekat karena panitia tender (Pokja) juga sudah dibentuk di Dinas PU
Kabupaten TTS.
Namun Kepala
Bidang Cipta Karya Dinas PU TTS Otniel Tahun kepada VN, Rabu (10/4) memastikan
proyek tersebut bakal tidak bisa dilanjutkan karena Dinas PU TTS belum juga
membuat kajian amdal yang diminta Dinas PU Provinsi NTT.
"Itu
proyek tanpa amdal, karena amdalnya belum kami buat. Kami sempat usul Rp 75
juta untuk buat amdal TPA, namun ditolak DPRD TTS saat pembahasan APBD
2013," kata Tahun.
Otniel juga
mengaku hingga saat ini belum mengetahui siapa pelaksana proyek tersebut karena
belum mendapat informasi dari Dinas PU Provinsi NTT terkait pemenang tender
proyek tersebut.
Sementara
pengakuan mengejutkan datang dari Muhamad Tanu, Ketua Panitia Proyek
Peningkatan (TPA) sampah di Desa Nonohanis yang dimenangkan PT Ardi Tekindo
Perkasa (ATP).
Kepada VN, Rabu
(10/4) petang, Tanu mengaku sudah meminta kepada rekan-rekan anggota panitia
untuk membatalkan saja tender proyek tersebut karena mendekati batas akhir masa
tender, PT Bukit Barisan dua kali mengirimkan sanggahan.
Namun entah
mengapa, saat dirinya kembali dari tugas di luar Kota Kupang 12 Februari lalu,
anggota panitia sudah mengambil keputusan bahwa PT Bukit Barisan dan PT ATP
dinyatakan lolos ke proses selanjutnya. Dan akhirnya PT ATP ditetapkan sebagai
pemenang.
"Saya
terus terang kepada teman pokja (sebutan untuk panitia) agar dibatalkan saja
dan dicocokkan dengan regulasi. Namun tidak ada klausul yang cocok untuk
batalkan lelang," katanya.
Gubernur NTT
Frans Lebu Raya saat dikonfirmasi terpisah mengaku belum menerima laporan soal
proyek tersebut. "Urusan kontraktor yang menang dari luar (NTT) atau dalam
tidak jadi soal karena sekarang proses lelang terbuka lewat internet. Tapi
nanti saya cek," katanya.
Turun Lokasi
Sekretaris
Komisi D DPRD NTT Tony Bengu mengatakan, ia bersama anggota Komisi D sudah
membahas serius persoalan ini. Mereka sudah menjadwalkan dalam kunjungan kerja
nanti, lokasi TPA Soe menjadi salah satu prioritas utama yang akan mereka
perhatikan.
Menurutnya,
pihak pengelola dan penanggung jawab perlu menjelaskan alasan mengapa
digelontorkan dana sekian besar untuk proyek ini di TPA Nonohonis. Jika nanti
di lapangan ditemukan TPA tersebut belum urgen, maka pihaknya akan mendesak agar
besaran dana proyek ditinjau kembali.
Hal senada
disampaikan anggota DPRD NTT John Army Koenay. Ia meminta Dinas PU Provinsi
untuk menjelaskan proyek ini sehingga publik mengetahui alasan penggelontoran
dana demikian besar untuk membangun TPA Nonohonis. TPA modern yang dilengkapi
fasilitas canggih layaknya TPA di kota besar yang memiliki masalah serius soal
sampah, menurutnya belum perlu dibangun di Soe. Volume sampah di Soe, bahkan
TTS umumnya belum sampai pada tingkat mengkhawatirkan.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar