WARGA NTT
diminta tetap menjaga perdamaian dan cerdas dalam mencermati isu-isu yang
dimainkan dalam proses putaran kedua Pilgub NTT. Warga diminta jangan
terpengaruh isu SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan) yang dimainkan elite
politik tertentu, sebab akan memecah persatuan dan kebersamaan.
Demikian salah
satu intisari pandangan yang mengemuka dalam seminar yang digelar Kaum Muda
Lintas Agama, Kompak, dan Peace Maker Kupang di Hotel Cahaya Bapa, Kupang,
Senin (29/4).
Kepala Bidang
Pendidikan Agama Katolik pada Kanwil Kementerian Agama Provinsi NTT Dominikus
Djata. Kita harus menyikapi setiap isu yang dimainkan dalam pilgub dengan
cerdas. Ini demi menjaga perdamaian kita di NTT. Elite politik juga kita
harapkan agar jangan manfaatkan isu SARA sebagai alat dalam pertarungan
politik, ujar Dominikus.
Dia mengingatkan
bahwa jika isu SARA yang dipakai dalam pertarungan politik, maka masyarakat
akan dipecah-belah. Itu berarti mengancam perdamaian dan kebersamaan yang sudah
dibangun selama ini.
Mengutip hasil
penelitian salah satu peneliti asal Amerika, Dominikus menyebutkan bahwa di NTT
terdapat lebh dari 300 suku dan budaya. Keanekaragaman suku dan budaya ini
adalah kekayaan yang harus terus dilestarikan, dan jangan dipertentangkan
perbedaannya untuk kepentingan-kepentingan sempit. Banyak nilai-nilai lokal di
tiap daerah di NTT yang mengajarkan tentang kerukunan, persahabatan dan
kekerabatan.
Hal senada
dikemukakan Romo Yohanes Giri dalam seminar tersebut. Dia mengatakan, perbedaan
selalu mengacu pada dua hal, yakni pada kebaikan dan bisa mengacu pada
persoalan. Karena itu ia meminta masyarakat NTT untuk selalu menjaga kerukunan
dalam hidup di tengah masyarakat.
Sementara Ketua
Badan Pengurus Pemuda GMIT Wiston Rondo mengatakan, apa pun dinamika politik
yang terjadi, peran pemuda adalah menjaga keharmonisan. Agama adalah urusan
tiap pribadi dengan Tuhan. Karena itu sangat naif jika agama dijadikan sebagai
isu dalam pertarungan politik. (aje/D-1)
Tidak ada komentar :
Posting Komentar