Jumat, 15 Maret 2013

Gubernur tidak Perduli Pembenahan RSUD



KEMATIAN ibu muda yang hamil sembilan bulan bersama bayi pertamanya di RSUD WZ Johannes Kupang, menimbulkan kepedihan sekaligus kemarahan publik. Banyak yang menilai Gubernur Frans Lebu Raya tidak berdaya dan tidak perduli membenahi rumah sakit milik provinsi itu.
Sherly Goro Lolu, 24, -- sang ibu muda itu --meninggal bersama bayinya di ruang UGD RSUD, Senin siang (4/3) karena tidak sempat ditangani dokter yang kompeten. Penanganan hanya dilakukan perawat.
Koordinator divisi anti korupsi PIAR NTT Paul SinlaeloE mengkritisi
Gubernur Frans Lebu Raya yang tidak berdaya melakukan perombakan manajemen RSUD. Bagi dia, Gubernur tidak peka terhadap sejumlah kasus kemanusiaan yang melilit RSUD.
Paramedis RSUD juga dituntut memberikan pelayanan maksimal penuh keiklasan tanpa melihat strata sosial pasien. "Jadi pasien darurat yang datang harus ditangani sesegera mungkin oleh dokter yang stand by. Tidak perlu dihambat terlalu banyak urusan administrasi," paparnya.
Koordinator Koalisi Akar Rumput NTT Jan Piter Windy menilai buruknya pelayanan RSUD WZ Johannes Kupang tidak cukup diatasi dengan merombak manajemen, namun kultur penanganan kedaruratan pun harus diperbaiki.
Pesan dari Kampung
Cara paling efektif adalah membuat prosedur standar pelayanan terhadap pasien dalam kondisi darurat di rumah sakit milik Pemprov NTT itu. Dengan demikian paramedis dan keluarga pasien bisa saling mengawasi.
"Publik juga mengontrol kualitas pelayanan di RSUD. Selama ini paramedis bekerja tanpa standar, yang penting untung," katanya.
Wadir Umum dan keuangan RSUD WZ Johannes Kupang Yudith M Kota bersikukuh pelayanan yang diberikan sesuai dengan standar operasi pelayanan (SOP). "Dokter memberikan intruksi untuk melakukan observasi kepada pasien dengan jalan memberikan penanganan termasuk memberikan obat sambil memperhatikan reaksinya.
Bagi Marthen Woda, kakak kandung Sherly, kemarahannya diungkapkan dalam sebuah pesan yang disebutnya pesan dari kampung. Marthen berpesan dari Desa Laboya Bawa, Kecamatan Laboya Barat, Sumba Barat.
Dia berpesan kepada para dokter di RSUD: "Cukup kejadian itu terjadi terhadap adik kami. Jangan ulangi dan tidak usah berdalil. Perbaikilah hati kalian hai paramedis. Jangan perlakukan pasien dan orang sakit seperti binatang." (aje)

Tidak ada komentar :

Posting Komentar