DI saat Pilgub NTT sedang berproses, bahkan sampai beberapa
hari menjelang pemungutan suara, Pemprov NTT terus menyalurkan bantuan beras,
maupun uang kepada masyarakat. Bantuan beras diguyur ke sejumlah yayasan
pendidikan, sementara uang diberikan dalam bentuk beasiswa dan dana penelitian
mahasiswa.
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) NTT Petrus Sinu Manuk
membenarkan adanya bantuan beras menjelang Pilgub ke sejumlah panti asuhan,
termasuk lembaga pendidikan. Namun bantuan itu diberikan atas dasar pemintaan,
dan bukan untuk menyogok.
Sekda NTT Frans Salem juga mengatakan hal senada. Bantuan
dana beasiswa maupun beras untuk masyarakat, tidak ada unsur politik.
Kepada VN yang menghubunginya, Kamis (14/3), Petrus
menjelaskan, beras yang disalurkan itu berasal dari cadangan beras pemerintah
yang biasanya masuk ke gudang Bulog setiap awal Januari sebanyak 100 ton yang
menjadi kewenangan bupati/wali kota, dan 200 ton yang menjadi kewenangan
gubernur. Beras tersebut bisa digunakan untuk kegiatan yang bersifat darurat.
Persediaan beras tersebut, katanya, bisa juga dialokasikan ke
lembaga pendidikan, termasuk panti-panti sosial yang membutuhkan. Syaratnya,
pihak penerima harus mengajukan proposal, termasuk adanya masalah rawan pangan
dan bencana alam. "Bisa saja proposal diajukan ke dinsos kabupaten/kota,
bisa juga langsung ke gubernur atau Dinsos NTT, dan jika sesuai peruntukan maka
beras disalurkan," katanya.
Menanggapi penilaian bahwa beras yang disalurkan itu adalah
"beras pilgub", Petrus meminta semua pihak harus melihat niat baik
Pemprov. "Jangan baca yang negatif, tapi harus lihat positifnya. Sebab,
pembagian beras sekarang karena ada orang minta, bukan karena kita sogok orang
untuk memilih," tegasnya.
Sekda Frans Salem menegaskan, bantuan beasiswa sudah menjadi
program rutin tahunan. Jadi tidak ada sangkut pautnya dengan Pilgub NTT.
"Jangan semua urusan pemerintah dikaitkan dengan politik. Nanti pemerintah
tidak bisa lakukan apa pun," katanya.
Terkait keberadaan para mahasiswa di kantor gubernur selama
beberapa waktu terakhir untuk menerima beasiswa, ia menjelaskan, itu terjadi
karena mahasiswa salah menerima informasi. "Program beasiswa ini harus
melalui perguruan tinggi. Jadi harus ada rekomendasi dari kampus. Tapi karena
mahasiswa dengar dari mulut ke mulut akhirnya ramai-ramai datang antar proposal
sendiri. Kita akan verifikasi proposal mereka, sebab, ada yang sudah pernah
menerima beasiswa tahun sebelumnya," katanya.
Politisasi Bantuan
Di mata pengamat politik Undana Lazarus Jehamat dan Rudi
Rohi, mengguyur bantuan di tengah proses politik, apalagi gubernur dan wakil
gubernur maju lagi sebagai calon, tidak bisa lepas begitu saja dari motif politik.
Menurut Lazarus, maraknya pembagian bantuan beras atau
bantuan lainnya di musim pilgub menunjukkan ada sesuatu yang tidak beres,
karena tahun-tahun sebelum tidak terjadi demikian. Praktik seperti ini
mencederai etika dan moral politik, dan bisa dikategorikan sebagai politisasi
bantuan.
"Kalau orang memberikan uang maka Panwas bisa lihat itu
sebagai politik uang. Tapi, yang terjadi sekarang telah terjadi metamorfosis
dalam politik uang di mana digunakan bentuk lain dengan memberi beras,"
ujarnya.
Rudi Rohi yang juga peneliti Bengkel APPeK ini mengatakan,
survei teranyar yang dilakukan Bengkel APPeK, politik uang marak dalam Pilgub
NTT. "Politik uang makin canggih di mana masyarakat sulit pahami itu
sebagai politik uang," katanya.
Ketua Bawaslu NTT Nelce Ringu meminta masyarakat proaktif
melaporkan berbagai pelanggaran selama masa tenang (15-17 Maret), termasuk
praktik-praktik politik uang. (aje/ans/D-1)
Tidak ada komentar :
Posting Komentar