|
POLITISASI bantuan untuk kepentingan politik
incumbent yang terkuak di SMA Kristen Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat dan
di Desa Suanae, Kecamatan Miomafo Barat, Kabupaten TTU, ditanggapi sinis
oleh tim sukses kandidat lain.
Bagi mereka, praktik seperti itu tidak fair dan
membodohi rakyat NTT jelang pencoblosan 18 Maret mendatang. Oleh karenanya,
mereka mengingatkan sesama tim sukses untuk selalu mengedepankan cara-cara
fair, elegan, dan tidak mengintimidasi masyarakat lewat penyaluran bantuan
yang sebenarnya adalah hak masyarakat.
Demikian intisari pendapat juru bicara paket
Esthon-Paul (Esthon Foenay-Paulus Edmundus Talo) Gabriel Beribina, juru
bicara Tunas (Ibrahim Medah-Emanuel Melkiades Laka Lena) Mech Saba, ketua
tim sukses Cristal (Christian Rotok-Abraham Paul Liyanto) Yan Mboeik, yang
disampaikan terpisah kepada VN, Selasa (26/2).
Gabriel Beribina berpendapat, bantuan apapun lewat
pemerintah umumnya berasal dari uang rakyat sehingga sudah jadi hak rakyat
untuk mendapatkan bantuan program dan tidak ada kaitannya dengan keharusan
memilih salah satu kandidat. ìJika ada program bantuan yang diberikan
jelang hari-hari pencoblosan maka masyarakat perlu mempertanyakan,"
katanya.
Mech Saba berharap, semua tim sukses menghindari
politisasi bantuan yang seharusnya menjadi hak masyarakat. "Jangan
beri bantuan kemudian mengarahkan untuk memilih paket kita. Berikan
pemahaman yang cerdas kepada masyarakat. Beritahu jika bantuan itu adalah
murni bantuan dari pemerintah melalui Pemerintah Provinsi atau Pemerintah
Pusat. Jangan mengelabui masyarakat," tegasnya.
Yani Mboeik menambahkan, pihaknya selalu
memberikan pemahaman kepada simpatisan dan pendukungnya bahwa bantuan yang
diberikan pemerintah adalah hak mereka karena berasal dari uang rakyat.
Untuk itu mereka berhak menerimanya tanpa embel-embel.
"Kami sangat yakin masyarakat tidak mungkin
dibodohi lagi dengan bantuan jelang pencoblosan. Bagi kami, pemimpin yang
baik turun ke rakyat setiap dibutuhkan dan tidak hanya memberikan bantuan
satu kali dalam lima tahun," jelasnya.
Anggota tim sukses paket Frenly (Frans Lebu
Raya-Benny Litelnoni Christo Blasin membantah keras tudingan berbagai
kalangan bahwa Frenly telah melakukan politisasi bantuan kepada masyarakat.
"Frans Lebu Raya masih sebagai gubernur dan tetap menjalankan tugas
pemerintah dan pembangunan. Gubernur beri bantuan, lebih dari sekadar
berbuat baik kepada masyarakat dan berasumsi bahwa menjadi
simpatisan," jelasnya. Menurut Blasin, mencari simpatisan adalah
kewajiban untuk menjalankan peran kepemimpinan dan sejak Lebu Raya menjadi
wagub dan lima tahun terakhir sebagai gubernur, hal tersebut tetap menjadi
program pemerintah.
"Jika kemudian pihak lain menilai (bantuan)
untuk mendukung kepentingan politik, itu hak orang. Kita biasa saja. Yang terpenting
bantuan-bantuan itu sungguh bermanfaat bagi masyarakat," jelasnya.
Untuk itu paket Frenly, lanjut Blasin, mengimbau
kepada masyarakat untuk jangan mudah dipengaruhi. Biarkan masyarakat
sendiri yang menentukan sikap politiknya. "Waktu sosialisasi,
masyarakat mengenal figur dan program paket. Sehingga intimidasi dan janji
dalam kepentingan politik itu hak untuk menentukan masa depan NTT,"
pungkasnya.
Diberitakan koran ini, penyerahan bantuan dana
dari Bank NTT untuk SMA Kristen Waikabubak sebesar Rp 15 juta, diserahkan
Dirut Bank NTT Daniel Tagudedo yang disaksikan Lebu Raya dan Litelnoni.
Sementara warga penerima rumah MBR (masyarakat
berpenghasilan rendah) di Desa Suanae, Kecamatan Miomafo Barat, TTU,
dikumpulkan di kantor desa dan kepala desa memerintahkan warganya untuk
memilih Frenly kalau ingin menerima bantuan rumah. (aje)
|
Tidak ada komentar :
Posting Komentar