POLITIK biaya tinggi kini sedang
terjadi di NTT. Pilgub dan 11
pilkada di NTT yang sedang
berlangsung tahun ini menghabiskan sekitar Rp 0,5 triliun. Betapa mahalnya
nilai kursi kepala daerah. Ongkos politik yang mahal ini sebagian besar
menyedot APBD, selain biaya yang digelontorkan parpol dan para calon yang
menjadi kontestan pilkada.
Pilgub NTT menyedot Rp 180 miliar
yang dikoleksi dari APBD NTT selama tiga tahun anggaran (APBD 2010-APBD 2012).
Itu biaya yang dialokasikan untuk KPU NTT. Sementara biaya yang dikeluarkan
lima paket calon mencapai sekitar Rp 50 miliar, dimana tiap paket calon
menghabiskan rata-rata Rp 10 miliar untuk merebut kursi gubernur dan wakil
gubernur.
Kursi bupati dan wakil bupati pun
tak kalah mahalnya. Sebelas kabupaten yang menyelenggarakan pilkada menguras
APBD-nya, mulai dari Rp 11 miliar hingga Rp 20 miliar, yang totalnya mencapai
sekitar Rp 172 miliar. Itu belanja pilkada yang bersumber dari APBD. Dari
kantong para kandidat pun, duit mengalir deras. Tiap paket calon setidaknya
menghabiskan paling sedikit Rp 5 miliar sehingga dana yang dihabiskan para
paket calon dalam 11 pilkada itu diperkirakan mencapai sekitar Rp 50 miliar.
Sekda NTT Frans Salem mengatakan,
alokasi dana Pilgub NTT sebesar Rp 180-an miliar itu untuk KPU, Bawaslu NTT dan
Kepolisian. "Dana ini berasal dari APBD NTT," ujarnya.
Pemprov juga menyediakan Rp 7 miliar
untuk biaya pengamanan, dari yang diminta Polda NTT Rp 21 miliar.
Ketua KPU NTT Johanes Depa
mengatakan, KPU mendapat dana Rp 150 miliar dari APBD NTT untuk membiayai
Pilgub NTT. Dana tersebut dipergunakan untuk membiayai seluruh tahapan, mulai
dari proses pencalonan hingga pemungutan dan penghitungan suara. Sedangkan
untuk biaya pengawasan oleh Bawaslu, disediakan dana Rp 13 miliar.
Tim Sukses Paket Frenly Nelson
Matara yang ditemui VN, Sabtu (9/3), membenarkan mahalnya biaya politik
tersebut. Selain APBD, pertarungan politik merebut kursi gubernur dan wakil
gubernur, juga menguras kantong dana parpol, dan para kandidat yang jumlahnya
tidak kecil.
Paket Frenly, katanya,
mengalokasikan anggaran sekitar Rp 9 miliar-Rp 12 miliar.
Nelson yang juga Wakil Ketua DPRD
NTT ini, juga mengakui mahalnya ongkos pilkada di tingkat kabupaten/kota.
Menurut dia, demokrasi dengan sistem pemilihan langsung seperti yang dianut
saat ini memang membutuhkan biaya besar.
Pengamat ekonomi dari Universitas
Nusa Cendana (Undana) Kupang Prof Dr Fred Benu mengatakan, pilkada kita memang
sangat mahal. Dengan sistem demokrasi yang ada saat ini, anggaran yang
dibutuhkan memang besar. Sebab, jika anggaran kurang, maka akan menyulitkan
pihak penyelenggara seperti KPU maupun Bawaslu dalam menyukseskan proses
pemilihan langsung kepala daerah.
Namun ia menyarankan agar anggaran
yang demikian besar dialokasikan untuk pilkada itu, diupayakan agar bisa
berdampak pada ekonomi masyarakat lokal (NTT). Dia mencontohkan, kebutuhan
logistik pilkada tak lagi mengandalkan pengusaha dari luar namun memberdayakan
pengusaha lokal agar APBD yang terkuras untuk membiayai Pilgub NTT maupun
pilkada-pilkada di kabupaten, "tidak lari" ke luar NTT.
Dari perspektif ekonomi, kata dia,
pilgub maupun pilkada di NTT justeru tidak memberi dampak positif bagi daerah
NTT, tetapi membawa dampak ekonomi bagi pengusaha/kontraktor di luar NTT. Dia
menyarankan, ke depan, pespektif ekonomi ini harus dipertimbangkan dalam setiap
pelaksanaan pilkada.
Pengamat kebijakan publik asal
Undana Dr Johanes Tuba Helan mengatakan, Pilgub NTT maupun pilkada di 11
kabupaten yang menghabiskan dana begitu besar, seharusnya menghasilkan pemimpin
yang berkualitas.
"Kita berharap biaya mahal ini bisa
menghasilkan pemimpin yang berkualitas," tambahnya. (aje)
Tidak ada komentar :
Posting Komentar